Cibinong, SuaraBotim.Com – Ketersediaan blangko Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik di Kabupaten Bogor masih menjadi tantangan, sampai saat ini Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bogor belum mengetahui pasti kuota blangko yang diberikan oleh pemerintah pusat.
Kepala Disdukcapil Kabupaten Bogor, Hadijana, mengungkapkan bahwa kebutuhan pencetakan KTP pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 400 ribu keping, terdiri dari kategori Print Ready Record (PRR) dan Non-PRR.
“PRR itu untuk warga yang baru pertama kali mendapatkan KTP elektronik. Sedangkan Non-PRR itu untuk perubahan data, seperti KTP yang hilang, rusak, atau ada perubahan status, misalnya dari belum menikah menjadi menikah. Justru permohonan terbanyak itu dari kategori Non-PRR,” jelasnya kepada SuaraBotim.com, Selasa (11/2/25).
Karena tingginya permintaan pencetakan ulang KTP Non-PRR, Disdukcapil Kabupaten Bogor mendorong warga untuk beralih ke Identitas Kependudukan Digital (IKD)sebagai solusi alternatif.
“Kalau KTP fisik hilang atau rusak, datanya masih tersimpan di IKD. Jadi, masyarakat tidak perlu cetak ulang selama mereka sudah terdaftar di IKD,” imbuhnya.
Hadijana menjelaskan bahwa setiap minggu pihaknya mengajukan permintaan blangko ke pusat. Namun, jumlah yang diterima sangat bervariasi.
“Biasanya menjelang akhir tahun, seperti November-Desember, kami bisa mendapat 6.000 hingga 10.000 blangko per minggu. Tapi kemarin pernah hanya diberi 500 saja,” ungkapnya.
Untuk mengatasi keterbatasan blangko, Disdukcapil Kabupaten Bogor telah mengambil kebijakan memprioritaskan pencetakan KTP bagi warga yang baru pertama kali memiliki KTP elektronik (PRR).
“Saya sudah instruksikan ke bidang terkait agar pencetakan PRR harus 0, artinya semua warga yang baru pertama kali membuat KTP harus segera mendapatkan dokumen fisik. Sementara untuk yang KTP-nya rusak atau hilang, diarahkan ke IKD,” ujarnya.
Sementara, Salah satu warga asal Gunung Putri, FO (18) mengaku, sempat mengalami keterlambatan dalam mendapatkan KTP karena keterbatasan blangko.
“Alhamdulillah, akhirnya KTP saya sudah jadi. Mungkin karena blangkonnya terbatas, jadi sedikit lama,” ucapnya.
FO juga berterima kasih kepada pihak kecamatan yang telah membantu proses administrasinya.
“Terima kasih Pak Camat, sekarang saya sudah tidak ribet lagi karena sudah punya kartu identitas,” tutupnya.
(pandu)







