Cibinong, SuaraBotim.Com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menegaskan komitmennya dalam menangani kasus kekerasan terhadap anak yang dinilai masih menjadi persoalan mendesak.
Pasalnya, data kasus kekerasan anak menurut Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Bogor, dari Januari hingga Juli 2025 melalui pengaduan langsung sebanyak 31 dan media sosial 39 serta temuan langsung 1.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bogor, Sussy Rahayu Agustini menyebut, penanganan kekerasan anak saat ini menjadi prioritas utama.
“Kita benar-benar urgensi, sangat urgensi. Kabupaten Bogor memiliki Komisi Perlindungan Anak serta banyak mitra yang bersama-sama menangani kekerasan terhadap anak,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com, Jumat (8/8/25).
Menurutnya, tingginya angka kasus kekerasan anak harus dilihat dari dua sisi yang berbeda.
“Apakah memang kasusnya meningkat karena faktor tertentu, atau karena masyarakat sudah berani melapor dan berkoordinasi,” jelasnya.
Sussy mengakui, data menunjukkan kecenderungan kenaikan kasus, namun hal itu juga bisa menjadi indikasi positif karena kesadaran masyarakat untuk melapor semakin tinggi.
Terkait perundungan (bullying) di sekolah, Sussy menyebut, pihaknya rutin melakukan pembinaan melalui Forum Anak Kabupaten Bogor.
Forum ini beranggotakan anak-anak di bawah usia 18 tahun yang telah dibekali edukasi untuk mencegah pernikahan dini, menghindari narkoba, menumbuhkan kepercayaan diri, dan memanfaatkan teknologi digital secara sehat.
“Kami juga sering diundang sekolah saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk menjadi narasumber, memberikan edukasi agar tidak terjadi kekerasan terhadap anak,” ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, menegaskan bahwa Kabupaten Bogor masih menjadi daerah dengan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan tertinggi di Jawa Barat.
“Predikat Kabupaten Ramah Anak bukan hanya slogan. Kita harus benar-benar menjaga anak-anak kita. Gunakan hati dan pikiran untuk melihat potensi mereka, karena itu akan menjadi kebaikan bagi Kabupaten Bogor di masa depan,” tegas Ajat.
(Pandu)







