Bojonggede, SuaraBotim.Com – Luka-luka di tubuh kecil Muhammad Arrasya Alfarizky (6) ternyata bukan hal baru bagi warga sekitar. Menurut kesaksian tetangga, setiap kali bocah itu terlihat keluar rumah, selalu ada luka baru di tubuhnya.
Irma (37), tetangga korban, masih tak percaya atas kepergian bocah malang itu. Ia mengaku sering memperhatikan kondisi Arrasya yang penuh luka sejak pertama kali keluarga tersebut pindah ke lingkungan mereka.
“Nanti nih udah sembuh di sini, nanti biru lagi di sebelah sini. Pokoknya tiap dia ke warung, pasti ada luka baru,” ujar Irma dengan nada getir.
Irma juga mengungkap, meski tubuhnya babak belur, Arrasya tetap bersekolah. Bocah itu berjalan kaki setiap hari dengan wajah yang tampak dipoles bedak tebal untuk menutupi memar di pipinya.
“Dia tetap sekolah walau penuh luka. Gurunya juga curiga karena anak itu sering bilang sakit, minta dipijit,” tambahnya.
Namun, ketika pihak sekolah hendak membawanya berobat, orang tua korban menolak dengan alasan sedang mengurus BPJS.
Warga pun mulai curiga karena keluarga tersebut juga tertutup dan jarang bergaul.
Dari keterangan Irma, diketahui bahwa ayah korban menikah siri dengan ibu tiri Arrasya sekitar tiga tahun lalu.
“Kata bapaknya, mereka nikah siri sudah tiga tahun, tapi belum punya KK baru. KTP suaminya Jakarta, istrinya Sukabumi,” jelasnya.
Korban sebelumnya sempat tinggal bersama kakek-nenek Arrasya, sebelum akhirnya bocah itu dibawa oleh ayah dan ibu tirinya ke kontrakan baru.
Warga sempat beberapa kali berusaha menolong, namun sang ayah selalu membawa kembali anaknya.
“Dulu kalau ada luka, kami bawa ke rumah buat diurusin. Tapi nanti diambil lagi sama bapaknya. Begitu terus sampai terakhir neneknya kehilangan kontak lima bulan,” tutur Irma.
Hingga akhirnya, kabar duka itu datang pada Minggu malam, sekitar pukul 23:00 WIB.
“Abang saya datang nangis-nangis bilang kalau Arrasya meninggal. Kami semua kaget dan nggak nyangka. Neneknya sampai pingsan waktu dengar,” ucapnya.
Kini warga hanya bisa berharap agar kasus kekerasan yang merenggut nyawa bocah polos itu bisa diusut tuntas. Bagi mereka, Arrasya bukan sekadar korban, tetapi anak kecil yang sempat berjuang diam-diam di balik luka yang tak pernah sempat sembuh.
(Pandu)







