SUARABOTIM.COM — Persoalan pangan di perkotaan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan di meja makan. Lebih dari itu, sistem pangan mencakup proses produksi, distribusi, konsumsi, hingga pengelolaan sisa makanan.
Menjawab tantangan tersebut, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menggelar kegiatan “Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor” di Dieu Geura Arts and Community Space, Kota Bogor.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tingginya pemborosan pangan. Berdasarkan riset KRKP pada 2026, sisa pangan di Kota Bogor diperkirakan mencapai 82,71 ton per hari dari rumah tangga, 10,12 ton per hari dari kafe, 10,37 ton per hari dari penyelenggaraan makan bergizi gratis di sekolah, 5,57 ton per hari dari hotel, dan 5,39 ton per hari dari restoran.
Sementara itu, United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat timbulan sampah makanan di Kota Bogor pada 2022 mencapai 55 kilogram per kapita per tahun.
Project Manager Pangan Kota Kita KRKP, Wahyu Ridwan Nanta, mengatakan persoalan pangan perkotaan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.
“Persoalan pangan kota tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu pihak atau satu sektor saja. Kita membutuhkan ruang kolaborasi yang mempertemukan pengetahuan, kebijakan, pelaku usaha, dan konsumen,” ujarnya.
Menurut Wahyu, semangat “rame-rame” menjadi penting karena pembangunan sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak.
Ia menambahkan, upaya mengurangi persoalan pangan dapat dimulai dari keluarga dan dilakukan secara kolektif oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Salah satu gerakan kolektif yang telah didorong oleh Pemerintah Kota Bogor adalah ASINAN BOGOR, yaitu gerakan aksi sadar kurangi pangan berlebih di Kota Bogor,” katanya.
Kota Bogor juga menghadapi tantangan lain dalam sistem pangan. Sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat masih dipasok dari luar wilayah kota, sementara lahan produksi pangan di dalam kota terus menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan.
Dosen Sekolah Vokasi IPB University, Widya Hasian Situmeang, mengatakan kondisi tersebut membuat Kota Bogor lebih banyak memiliki daya beli dibandingkan kemampuan untuk memproduksi pangan.
“Kota Bogor hanya memiliki daya beli, dan tidak memiliki daya untuk memproduksi pangan,” ujarnya.
Menurut Widya, persoalan pangan juga berkaitan dengan peran perempuan dalam rumah tangga. Perempuan kerap menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam memilih pangan, menyusun menu, berbelanja, menyiapkan makanan, hingga menangani sisa pangan.
“Perempuan menjadi food keeper, yang bertugas memilih jenis pangan, mengatur menu, membeli pangan, menyiapkan makanan di piring keluarga, hingga menangani sisa atau limbah pangan. Hal tersebut menjadikan perempuan memiliki beban ganda atau triple dalam kehidupan sehari-harinya,” jelasnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Talkshow Radio “Aksi Kita Sapa Bumi: Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor”, hasil kolaborasi KRKP dengan Pro 2 FM RRI Bogor.
Sesi pertama membahas penguatan sistem pangan perkotaan dari perspektif pemerintah, akademisi, perempuan, dan generasi muda. Sementara sesi kedua menghadirkan pelaku usaha pangan dengan pembahasan mengenai green entrepreneurship, pengurangan sisa pangan, pemendekan rantai pasok, hingga pemanfaatan bahan baku lokal.
Founder Salam Rancage, Aling Nur Naluri Widianti, mengatakan penerapan bisnis hijau masih menghadapi tantangan.
“Bisnis hijau sangat sulit bertahan lama dan bahkan tidak menguntungkan bagi sebagian besar pelaku usaha pangan,” tuturnya.
Meski demikian, Aling menilai ekosistem di Bogor cukup mendukung perkembangan ekonomi hijau. Pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai mulai menunjukkan perhatian terhadap tren konsumsi pangan yang lebih organik dan ramah lingkungan.
Selain talkshow, kegiatan juga menghadirkan bazar pangan lokal, pameran sistem pangan perkotaan, konsultasi bersama pakar dari Klinik Tanaman dan Hewan IPB University, serta workshop “Praktik Pemanfaatan Sisa Pangan Menjadi Ide Usaha” yang difasilitasi SMX School of Maker.
Melalui workshop tersebut, peserta diajak melihat sisa pangan tidak hanya sebagai limbah, tetapi juga sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan menjadi produk baru maupun peluang usaha.
Kegiatan ini juga mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen yang mulai memperhatikan praktik pangan berkelanjutan. Pelaku usaha dapat memperkenalkan produk sekaligus memperoleh masukan langsung dari masyarakat.
Generasi muda turut menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut karena memiliki kedekatan dengan pola konsumsi di luar rumah, layanan pesan antar, serta berbagai platform komunikasi digital.
KRKP berharap “Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor” tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari, tetapi dapat memperkuat jejaring antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan konsumen.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan semakin banyak praktik pangan berkelanjutan yang berkembang, akses pasar bagi pelaku usaha hijau semakin luas, serta kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan pangan semakin meningkat. (Retza)







