Gunung Putri, SuaraBotim.Com – Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) atau traffic light di kawasan exit Tol Gunung Putri sudah bertahun-tahun tidak berfungsi. Kondisi ini menyebabkan kemacetan lalu lintas yang kerap kali ekstrem, terutama karena arus kendaraan besar yang terus melintas di wilayah tersebut.
Pasalnya, total terdapat lima titik traffic light di wilayah tersebut yang sudah mati selama bertahun-tahun dan hingga kini belum juga mendapatkan penanganan serius.
Kepala Desa Gunung Putri, Daman Huri mengungkapkan, keprihatinannya dan secara langsung meminta kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor untuk segera menindaklanjuti masalah ini.
“Saya sudah sampaikan secara lisan kepada Dishub yang hadir. Tolong ini disampaikan ke Kepala Dinas agar lampu merah ini jangan jadi pajangan. Sudah puluhan tahun mati, dan ini anggaran negara. Kalau tidak difungsikan, ya sayang,” tegas Daman kepada SuaraBotim.Com, Minggu (15/6/25).
Menurut Daman, traffic light yang mati tidak hanya membahayakan pengguna jalan, tapi juga menjadi simbol lemahnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat, terutama dalam hal pengaturan lalu lintas.
“Slogan Bogor Istimewa dari Pak Bupati Rudy Susmanto itu bagus, tapi harus diikuti oleh dinas dan jajarannya. Kalau bupatinya gerak cepat, dinas-dinasnya juga harus cepat. Kita sebagai pemerintahan harus sama-sama bergerak cepat,” ujarnya.
Daman mengaku, sudah menjabat sebagai kepala desa selama lima tahun dan lampu merah tersebut sudah tidak berfungsi bahkan jauh sebelum ia menjabat, kemungkinan sudah mati selama lebih dari 10 tahun. Ia menyayangkan lambannya respon dari instansi terkait.
Lebih lanjut, kata dia, kalau membandingkan dengan wilayah perbatasan Gunung Putri dan Citeureup, yang memiliki traffic light aktif dan berfungsi dengan baik.
“Di Citeureup bisa jalan, kenapa di Gunung Putri tidak? Kalau memang perlu, uji coba saja. Dari situ kita bisa tahu akar permasalahannya. Jangan hanya menebak-nebak tanpa tindakan,” terangnya.
Daman Huri menyampaikan, bahwa akibat kemacetan yang terjadi setiap hari di sekitar Cagak – Exit Tol Gunung Putri, masyarakat telah mengalami kerugian besar, baik dari segi waktu, tenaga, hingga bahan bakar.
“Saya sudah teriak sejak lama, tapi tidak pernah ada perhatian. Kalau memang tidak bisa difungsikan, lebih baik dicabut saja. Jangan sampai seolah-olah pemerintah daerah tidak peduli,” ucap Daman dengan nada kecewa.
Sementara itu, seorang pengendara yang rutin melintas dikawasan tersebur Dadi mengaku frustrasi dengan kondisi kemacetan yang tak kunjung terselesaikan.
“Setiap hari lewat sini macetnya luar biasa. Kalau ada traffic light yang berfungsi, setidaknya bisa mengatur arus kendaraan. Sekarang ya semua jalan sendiri-sendiri, nggak ada pengaturan,” kata Dadi.
(Pandu)







