Nanggung, SuaraBotim.Com – Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, memiliki sejarah besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Di desa inilah, bendera Merah Putih pertama di Kabupaten Bogor berkibar pada 17 Agustus 1945, tepat saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menegaskan bahwa Desa Malasari bukan hanya sekadar desa wisata, melainkan simbol kebangkitan pembangunan dari Kabupaten Bogor untuk Indonesia.
“Desa Malasari menjadi penyemangat buat kita. Bendera Merah Putih pertama di Kabupaten Bogor berkibar di sini, maka ini adalah momentum kebangkitan membangun bangsa dari Kabupaten Bogor,” ujar Rudy
Dalam kesempatan itu, Bupati Rudy juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Desa Malasari yang selama ini masih tertinggal dalam pembangunan, terutama infrastruktur jalan.
“Yang saya sampaikan pertama kali kepada masyarakat Desa Malasari, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Infrastruktur tertinggal, dan ini momentum kita bersama merayakan HUT RI ke-80,” katanya.
“Kehadiran kami yang kedua kalinya sejak dilantik adalah untuk memastikan pembangunan di Malasari benar-benar berjalan,” jelasnya.
Rudy menuturkan, sejak kunjungan pertamanya bersama Wakil Bupati dan Forkopimda, Pemkab Bogor langsung mengalokasikan pembangunan jalan yang sejak Indonesia merdeka belum tersentuh perbaikan.
“Alhamdulillah, proses pembangunan berjalan,” ucapnya.
Selain pembangunan jalan, perhatian khusus juga diberikan pada akses pendidikan anak-anak di Malasari.
Orang nomor satu di Bumi Tegar Beriman itu menyebut, bahwa Pemkab Bogor akan menyiapkan beberapa mobil jemputan khusus anak sekolah di Desa Malasari.
“Maka bulan depan Pemkab Bogor akan menyiapkan khusus jemputan untuk anak-anak Desa Malasari agar tetap bisa melanjutkan sekolah dengan baik. Kami akan siapkan 3 unit kendaraan kecil, bukan bus, karena kondisi jalan yang menanjak,” jelasnya.
Rudy menegaskan, bahwa pembangunan di Malasari tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan. Sebab, wilayah ini berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang merupakan aset dunia.
“Yang utama adalah keindahan potensi alam. Taman Nasional Gunung Halimun Salak bukan hanya aset Kabupaten Bogor, tetapi aset dunia. Maka, siapa pun yang datang ke Malasari harus menjaga dan melestarikannya,” ujarnya.
Pemkab Bogor juga berencana menandatangani kerja sama dengan Balai Besar TNGHS untuk prasarana lingkungan.
“Ada jalur yang tidak bisa dibetonisasi, sehingga sedang dinegosiasikan agar bisa menggunakan paving block berlubang, supaya air tetap terserap dan jalan bisa dilalui dengan baik,” jelasnya.
Selain pembangunan infrastruktur, Pemkab Bogor menjajaki kerja sama dengan PT Sumi Asih untuk mengembangkan pariwisata berbasis perkebunan teh. Rudy menyebut kawasan ini berpotensi menjadi destinasi wisata kelas dunia.
“Ini mirip dengan kawasan Puncak tahun 60-an, saat kebun teh masih alami dan belum tersentuh pedagang kaki lima. Ke depan, kawasan ini akan ditata sejak awal sehingga menjadi destinasi wisata kelas dunia,” ungkapnya.
Pembangunan jalan di Desa Malasari ditargetkan rampung pada 2026. Tahun 2025, anggaran baru bisa menjangkau sampai perbatasan kebun teh. Rudy berharap ada kolaborasi dengan Kabupaten Sukabumi untuk menyelesaikan akses lintas wilayah.
“Kalau Sukabumi merespons, kita akan lanjutkan. Tapi kalau tidak, jalur akan kami alihkan ke Cianten. Kami sudah pertimbangkan baik-baik, dan 2026 targetnya tuntas,” tegasnya.
Desa Malasari bukan hanya kaya akan sejarah kemerdekaan, tetapi juga potensi alam, pendidikan, dan pariwisata. Dengan luas wilayah sekitar 78 ribu hektar, desa ini menjadi salah satu yang terluas di Kabupaten Bogor.
“Dari Malasari untuk Kabupaten Bogor, dari Kabupaten Bogor untuk Indonesia. Kita bahu-membahu membangun Kabupaten Bogor yang lebih maju, aman, adil, dan makmur,” tutup Bupati Rudy Susmanto.
(Pandu)







