Cibinong, SuaraBotim.Com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperluas program pemilahan sampah. Setelah diterapkan di 27 SKPD, kini program tersebut mulai merambah ke sekolah-sekolah, perumahan warga, hingga tingkat desa.
Plt Kepala DLH Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya telah menginisiasi program pemilahan sampah di 50 sekolah yang berada di wilayah Cibinong Raya. Langkah ini akan diperluas ke kawasan permukiman, RT/RW, daerah industri, dan pusat bisnis.
“Intinya ada di pemilahan sampah. Di level desa sudah tersedia TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) sehingga pemilahan bisa dilakukan langsung di sana,” katanya kepada SuaraBotim.Com, Kamis (25/9/25).
Menurutnya, seluruh jenis sampah sebenarnya dapat dimanfaatkan jika dipilah sejak dari rumah tangga. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, plastik dapat didaur ulang menjadi bahan baku industri seperti pakaian olahraga, kertas dimanfaatkan kembali menjadi tisu, sementara sampah multilayer bisa diproses menjadi bahan bakar alternatif untuk pabrik semen.
“Jadi semuanya bisa diurai. Tapi kuncinya adalah pemilahan sejak dari rumah tangga. Sosialisasi harus terus dilakukan. Jepang saja butuh 50 tahun untuk membiasakan warganya memilah sampah, kita di Indonesia dengan jumlah penduduk jauh lebih besar tentu butuh upaya masif,” ujarnya.
Saat ini, pihaknya juga tengah menyiapkan skema berjenjang dalam pengelolaan sampah. Mulai dari bank sampah di tingkat RT/RW, TPS3R di tingkat desa, hingga TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) di tingkat kecamatan.
Menurutnya, skema ini disiapkan sebagai peta jalan menuju penutupan TPPAS Galuga yang rencananya dilakukan secara bertahap.
“Tingkat kecamatan nantinya akan ada mesin pemilah, dryer untuk pengeringan, sampai pengepakan sampah sebelum dikirim ke pabrik semen. Itu pola ke depan jika Galuga ditutup,” jelasnya.
Tak hanya itu, DLH juga akan menggandeng Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) agar dana infrastruktur desa dapat turut mendukung pengelolaan sampah. Bahkan, Pemkab Bogor menyiapkan reward khusus bagi desa yang berhasil mengelola sampah dengan baik.
“Misalnya desa yang pengelolaan sampahnya bagus akan diberikan dana pembinaan hingga Rp2 miliar untuk membeli infrastruktur. Tujuannya agar ada semangat di tingkat desa. Ke depan, masyarakat juga harus punya kesadaran, kalau tidak memilah sampah justru akan malu,” tegasnya.
Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada TPPAS Galuga sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah tangga, sehingga pengelolaan sampah di Kabupaten Bogor lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
(Pandu)







