Gunung Putri, SuaraBotim.Com – Di sudut Jalan Griya Bukit Jaya, Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, aroma jahe hangat dan suara obrolan pelan bercampur menjadi satu.
Di situlah Angkringan Strada 87 “Poncol” berdiri, menghadirkan suasana sederhana yang dirindukan banyak orang setelah lelah seharian bekerja.
Angkringan milik Cholay, pria pribumi setempat, menghadirkan suasana sederhana khas angkringan tradisional dengan sentuhan cerita unik di balik namanya.
Nama “Strada 87” bukan sekadar tempelan, nama itu singkatan dari Seni Tradisional Daerah. Ia lahir dari sebuah Vespa keluaran tahun 1987, milik saudara pemilik angkringan. Vespa itu dulu menjadi kendaraan setia keluarga, lalu berubah menjadi inspirasi sekaligus modal awal berdirinya angkringan ini.
Di dinding kedai, kisah kecil itu masih tergantung, menjadi pengingat bahwa usaha ini dimulai dari sesuatu yang dekat di hati.
Hidangan yang disajikan pun sangat dekat dengan lidah masyarakat. Berbagai sate, tahu dan tempe bacem, nasi kucing, mie instan, gorengan, hingga aneka minuman dan frozen food tersaji dalam pilihan yang sederhana namun menggoda.
Di antara semuanya, wedang jahe susu menjadi primadona. Minuman ini kerap dipesan untuk menghangatkan tubuh di malam yang perlahan mendingin.
Angkringan Strada 87 mulai beroperasi sejak pukul 17.30 hingga pukul 02.00 dini hari. Waktu yang cukup panjang bagi warga sekitar untuk sekadar mampir, mengisi perut, atau mengobrol santai dengan teman.
Eko, salah satu pengunjung, mengatakan bahwa yang membuatnya kembali bukan hanya rasa makanan, tetapi suasana nyaman yang tercipta.
Ia merasakan keramahan pemilik dan cita rasa yang konsisten, membuat angkringan ini seperti tempat singgah yang menyenangkan sebelum pulang ke rumah.
Angkringan Strada 87 “Poncol” mungkin tidak besar, tetapi ia menyimpan kehangatan yang tulus. Dalam kesederhanaannya, ia mengajak orang untuk berhenti sejenak, menikmati malam, dan merasakan kembali kedekatan yang sering hilang di tengah hiruk-pikuk hari.
(Pandu)







