SUARABOTIM.COM – Warga bergotong royong memperbaiki jembatan darurat untuk kendaraan roda dua di aliran Sungai Cileungsi, kawasan Kali Wika, Kabupaten Bogor, Senin (21/9/26).
Jembatan tersebut sebelumnya kembali terseret arus sungai akibat hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Bogor.
Jembatan darurat itu dibuat secara swadaya oleh masyarakat untuk mempermudah akses warga, khususnya pengendara sepeda motor.
Akses tersebut menjadi penting karena jembatan utama Kedep yang menghubungkan wilayah Kecamatan Gunung Putri dan Kecamatan Klapanunggal saat ini tengah direkonstruksi dan ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Warga menyebut jembatan darurat untuk roda dua tersebut sudah dua kali terseret arus. Terbaru, jembatan kembali rusak akibat debit Sungai Cileungsi yang meningkat setelah hujan deras, sehingga warga kembali melakukan perbaikan secara gotong royong.
Selain jembatan untuk sepeda motor, masyarakat juga menyediakan jembatan gantung darurat bagi pejalan kaki. Namun, kapasitas jembatan tersebut terbatas dan kerap dipadati warga pada pagi hari ketika aktivitas sekolah dan bekerja berlangsung bersamaan.
Kondisi tersebut membuat sebagian pejalan kaki memilih menggunakan jalur darurat untuk sepeda motor. Sementara itu, jalur alternatif sebenarnya tersedia, tetapi warga menilai jaraknya cukup jauh karena harus memutar. Waktu tempuh melalui jalur alternatif bahkan bisa mencapai sekitar satu jam.
Material jembatan darurat roda dua tersebut memanfaatkan sejumlah material yang tersedia di sekitar lokasi, termasuk puing atau limbah beton dari pabrik.
Salah seorang warga sekitar, Nurdin Firmansyah alias Monok mengatakan, perbaikan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang setiap hari menggunakan akses tersebut.
“Gotong royong buat akses roda dua saja, bukan roda empat. Itu pun tergantung cuaca. Kalau memang tidak memungkinkan, ya tidak dipaksakan,” kata Monok.
Menurut Monok, warga mempertimbangkan kondisi dan debit air sebelum membuka akses tersebut. Jika debit Sungai Cileungsi kembali tinggi dan dinilai membahayakan, akses jembatan darurat akan ditutup sementara.
“Kita lihat situasi dan kondisi, karena kita sedikit paham debit air. Jangan main-main. Kalau memang harus kita tutup, kita tutup. Jangan sampai ada korban, jangan sampai membahayakan,” ujarnya.
Monok menjelaskan, jembatan darurat tersebut kembali terseret arus setelah hujan deras mengguyur sejumlah wilayah Bogor, termasuk Ciawi, Cibinong dan Sentul.
“Karena faktor alam, apa boleh buat. Kita memang hanya memanfaatkan kondisi alam. Ketika cuaca memungkinkan, kita upayakan motor bisa lewat. Kalau bisa, ya alhamdulillah. Kalau tidak bisa, kita tidak memaksakan,” tuturnya.
Ia menambahkan, keberadaan akses darurat tersebut cukup membantu warga, terutama pekerja dan anak sekolah yang harus melintasi Sungai Cileungsi setiap hari.
“Kalau muter itu aksesnya terlalu jauh. Kalau lewat sini lebih dekat. Anak sekolah pun bisa diantar sama ibunya atau bapaknya,” katanya.
Di sisi lain, Nurdin juga menyinggung kondisi air Sungai Cileungsi yang sebelumnya sempat terlihat keruh dan terkadang disertai busa. Warga mengaku tidak mengetahui secara pasti sumber material yang masuk ke aliran sungai tersebut.
“Kita enggak tahu itu limbah dari pabrik mana. Cuman terkadang sampai juga ke sini, sampai ada busa-busanya,” ungkapnya.
Ia mengatakan warga hanya dapat melihat adanya perubahan warna dan tekstur air, tanpa mengetahui apakah material tersebut termasuk limbah berbahaya atau tidak.
“Kalau kita tahunya hanya limbah, enggak tahu itu limbah berbahaya atau enggak. Kadang-kadang dari tekstur dan warna airnya agak sedikit berbeda,” jelasnya.
Namun, lanjut Monok, setelah hujan mengguyur kawasan tersebut, kondisi air Sungai Cileungsi saat ini disebut sudah kembali lebih jernih dan stabil.
“Alhamdulillah sekarang sudah bening, sudah stabil. Tinggal debitnya saja yang masih tinggi,” pungkasnya.
(Pandu)






