SUARABOTIM.COM – Aktivitas investasi di Bumi Tegar Beriman dalam lima tahun terakhir ini turut membuka lapangan kerja bagi puluhan ribu masyarakat.
Pasalnya, tercatat sekitar 55.438 tenaga kerja terserap dari realisasi investasi yang mencapai Rp32,46 triliun sepanjang 2021 hingga 2025.
Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bogor, Asep Hermawan Setiady mengatakan, capaian investasi tersebut telah melampaui target yang ditetapkan.
“Untuk investasi Kabupaten Bogor dari tahun 2021 sampai 2025 capaiannya sebesar Rp32,46 triliun. Targetnya tercapai lebih dari 141,74 persen,” katanya kepada SuaraBotim.Com, Selasa (22/9/26).
Berdasarkan capaian tersebut, Asep menyebut, Kabupaten Bogor berada di posisi ketiga dalam realisasi investasi setelah Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah sektor unggulan yang menjadi penyumbang investasi di Bumi Tegar Beriman.
“Yang paling tinggi di sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran, kemudian industri makanan, serta hotel dan restoran,” ujarnya.
Khusus sektor industri makanan, Asep menyebut Kabupaten Bogor memiliki potensi strategis karena lokasinya berdekatan dengan sejumlah wilayah lain. Sektor tersebut memberikan kontribusi sekitar 19,48 persen terhadap investasi.
Selain industri makanan, lanjut Asep, perkembangan sektor pariwisata juga dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan investasi. Munculnya sejumlah destinasi wisata baru diharapkan dapat menggerakkan sektor usaha mikro dan kecil, usaha menengah, hingga perhotelan.
Terkait investasi industri padat karya yang belum menjadi sektor dominan, Asep menjelaskan bahwa data investasi yang digunakan DPMPTSP mengacu pada sistem Online Single Submission (OSS) dan data yang masuk ke pemerintah pusat.
“Industri padat karya juga berdasarkan potensi-potensi yang memang ada, dari letak strategis dan menyesuaikan dengan potensi wilayah,” jelasnya.
Menurut Asep, Kabupaten Bogor lebih banyak berkembang sebagai wilayah penyangga Ibu Kota serta berbatasan dengan kawasan industri seperti Bekasi. Kondisi tersebut turut memengaruhi jenis investasi yang masuk ke daerah.
Sementara itu, terkait kondisi iklim investasi di Kabupaten Bogor, DPMPTSP terus melakukan penguatan pelayanan dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat maupun pelaku usaha, termasuk dalam penerapan regulasi dari pemerintah pusat.
Asep mengakui posisi Kabupaten Bogor dalam realisasi investasi mengalami perubahan dibandingkan periode sebelumnya. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah keterbatasan lahan serta rencana tata ruang wilayah.
“Karena memang ada beberapa potensi yang belum masuk. Dulu kita ada di urutan kedua setelah Karawang karena di sana ada perluasan kawasan industri,” katanya.
Menurut Asep, pengembangan kawasan industri di Kabupaten Bogor kini menghadapi keterbatasan karena adanya ketentuan tata ruang dan kebutuhan mempertahankan sektor lain, termasuk pertanian.
“Di Kabupaten Bogor juga sudah sangat terbatas. Lebih kepada rencana tata ruang wilayah yang memang belum mendukung,” ujarnya.
Terkait rencana pengembangan kawasan industri di wilayah Bogor Barat, Asep mengatakan, hingga saat ini rencana tersebut belum berjalan sepenuhnya.
“Belum berjalan, dan masih ada pemenuhan-pemenuhan yang lainnya yang memang kita juga tidak bisa abaikan dari sisi perencanaan,” tandasnya.
(Pandu)







