SUARABOTIM.COM – Dari sebuah desa berkembang, Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, kini menjelma menjadi desa mandiri yang kembali membawa nama Jawa Barat ke tingkat nasional.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Gunung Putri, Damanhuri, desa yang berada di kawasan padat penduduk tersebut terus mendorong berbagai program pembangunan, pemberdayaan masyarakat hingga inovasi desa.
Transformasi itu mulai terlihat sejak sekitar 2019. Saat Damanhuri memimpin, Desa Gunung Putri yang sebelumnya berstatus sebagai desa berkembang pada tahun 2019 dan berhasil bertransformasi menjadi desa mandiri pada tahun 2021.
Perjalanan tersebut kemudian diikuti dengan berbagai penghargaan. Salah satunya penghargaan Desa Bersih dari Narkoba (Bersinar) tingkat nasional.
Terbaru, Desa Gunung Putri juga berhasil meraih Juara III atau Pinunjul Katilu Anugerah Gapura Sri Baduga 2025 tingkat Provinsi Jawa Barat. Penghargaan tersebut diberikan dalam penilaian terkait kinerja dan tata kelola pemerintahan desa.
Berbagai capaian itu kini menjadi bekal Desa Gunung Putri untuk kembali bertarung di level yang lebih tinggi.
Tahun 2026 ini, Desa Gunung Putri menjadi salah satu desa yang mewakili Provinsi Jawa Barat dalam Penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi tingkat nasional.
Kepala Desa Gunung Putri, Damanhuri mengatakan, proses menuju tingkat nasional berlangsung secara bertahap. Seleksi dimulai dari tingkat kecamatan, kemudian kabupaten, provinsi hingga akhirnya ditentukan desa yang mewakili Jawa Barat di tingkat nasional.
“Dari Provinsi Jawa Barat inilah ditentukan siapa yang mewakili untuk tingkat nasional. Alhamdulillah, Desa Gunung Putri lolos lima besar dan mewakili Provinsi Jawa Barat,” kata Damanhuri, Selasa (6/10/26).
Menurut Damanhuri, persiapan menghadapi penilaian tingkat nasional tidak hanya berkaitan dengan tata kelola pemerintahan.
Berbagai aspek mulai dari pemberdayaan masyarakat, kewilayahan hingga inovasi desa turut menjadi bagian yang dipersiapkan.
Damanhuri menyebut pihaknya juga menampilkan sejumlah inovasi yang telah berjalan dalam kurun waktu empat hingga lima tahun terakhir.
“Inovasi-inovasi yang memang sudah berjalan empat sampai lima tahun ke belakang kami masukkan menjadi satu inovasi unggulan untuk menghadapi penjaringan desa dan kelurahan berprestasi ini,” ujarnya.
Berhadapan dengan desa-desa dari berbagai daerah di Indonesia, Damanhuri mengaku tidak menjadikan persaingan tersebut sebagai alasan untuk minder.
Baginya, setiap desa memiliki potensi dan keunggulan masing-masing. Justru kompetisi tingkat nasional menjadi kesempatan untuk mengukur sejauh mana hasil pembangunan dan inovasi yang telah dilakukan Desa Gunung Putri.
“Desa Gunung Putri selalu optimistis ketika mengikuti event apa pun. Kami selalu optimistis menampilkan yang terbaik dan semaksimal mungkin untuk bisa menghadirkan prestasi yang dapat dibanggakan, tidak saja tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi maupun nasional,” tuturnya.
Optimisme itu juga didukung pengalaman Desa Gunung Putri yang sebelumnya telah beberapa kali masuk dalam kompetisi tingkat nasional.
Damanhuri menilai, salah satu hal yang membedakan setiap desa bukan semata-mata besaran anggaran, melainkan bagaimana pemerintah desa mampu membaca dan mengembangkan potensi wilayahnya.
“Kalau anggaran kan sama setiap desa. Yang membedakan barangkali potensi wilayah. Potensi wilayah mungkin berbeda-beda dan kepala desa memang harus semaksimal mungkin bisa memanfaatkan potensi yang ada di wilayah masing-masing,” katanya.
Salah satu kekuatan yang membuat Desa Gunung Putri percaya diri menghadapi kompetisi nasional adalah inovasi.
Damanhuri menyebut pihaknya berupaya menciptakan inovasi yang tidak sekadar mengikuti kebiasaan, tetapi lahir dari kebutuhan dan potensi masyarakat Desa Gunung Putri.
“Terutama inovasi. Inovasi kita ini out of the box. Kita keluar dari kerangka pemikiran kebiasaan orang,” ucapnya.
Salah satu contoh yang ditonjolkan adalah pembangunan dan pengelolaan jaringan telekomunikasi secara mandiri.
Menurut Damanhuri, sistem tersebut dibangun dan dikelola dengan memanfaatkan kemampuan serta potensi yang dimiliki masyarakat Desa Gunung Putri tanpa bergantung sepenuhnya kepada pihak lain.
“Kita betul-betul mandiri dari potensi yang ada. Kemudian potensi ini kita kembangkan menjadi sebuah inovasi yang 100 persen didapat dari kemampuan anak-anak atau orang-orang Desa Gunung Putri,” jelasnya.
Konsep kemandirian tersebut menjadi salah satu nilai yang ingin ditunjukkan Desa Gunung Putri dalam penilaian tingkat nasional.
Meski optimistis, perjalanan menuju kompetisi tingkat nasional bukan tanpa hambatan.
Damanhuri mengungkapkan, salah satu tantangan yang dihadapi adalah perubahan regulasi dan petunjuk teknis yang terkadang terjadi dalam proses penilaian.
“Hambatan sih banyak, terutama selalu berubah-ubah dari peraturan maupun regulasi yang ada. Kemudian juga juknis lomba ada perubahan-perubahan dadakan. Ini merupakan satu tantangan,” ungkapnya.
Namun, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi.
Bagi Damanhuri, jika ingin meraih prestasi, seluruh tim harus siap menghadapi berbagai kemungkinan.
Kekompakan menjadi kunci. Sebab, penilaian dalam kompetisi desa berprestasi tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi merupakan hasil kerja bersama seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat.
“Cara menghadapi ini adalah kekompakan tim. Karena kerja dari penilaian ini bukan orang per orang, tetapi kekompakan teamwork kita. Di mana ada soliditas tinggi dan ada niatan yang sama, bagaimana membawa desa kita menjadi desa yang dapat dibanggakan dan terbaik,” katanya.
Ada satu prinsip yang selama ini dipegang Damanhuri dalam menjalankan program pembangunan di Desa Gunung Putri. Prinsip tersebut sederhana: “jalan dulu, nanti ketemu jalan.”
Menurutnya, prinsip itu sudah ia pegang sejak sebelum berkeluarga. Baginya, sebuah program tidak selalu harus menunggu tersedianya anggaran atau modal yang besar untuk bisa dimulai.
“Semua keinginan, program maupun tujuan yang dimaksudkan oleh kita, jangan selalu berbasis anggaran.” ujarnya.
Ia memilih memulai terlebih dahulu dengan memanfaatkan potensi yang tersedia. Dalam prosesnya, solusi terhadap kebutuhan anggaran maupun persoalan lainnya akan dicari secara bersama-sama.
“Jalan dulu nanti ketemu jalan. insyaallah kita akan mendapatkan solusi yang terbaik, baik di anggaran maupun di hal-hal lain yang bisa memperlancar maksud dan tujuan kita,” tutur Damanhuri.
Kini, Desa Gunung Putri tinggal menunggu hasil dari perjuangan panjang tersebut.
Dengan sederet penghargaan, pengalaman mengikuti kompetisi tingkat nasional, serta inovasi yang dikembangkan secara mandiri, Desa Gunung Putri membawa satu harapan, memberikan hasil terbaik sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Bogor dan Jawa Barat di tingkat nasional.
Bupati Bogor Rudy Susmanto sebelumnya juga berharap Desa Gunung Putri dapat meraih hasil terbaik dalam ajang tersebut.
Bagi Desa Gunung Putri, kompetisi ini bukan sekadar mengejar sebuah penghargaan. Lebih dari itu, ajang tersebut menjadi pembuktian bahwa desa dengan berbagai tantangan wilayah mampu tumbuh melalui inovasi, kekompakan dan keberanian untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki.
(Pandu Maulana)






