Cibinong, SuaraBotim.Com – Sebanyak 26 kecamatan di Kabupaten Bogor terdampak bencana alam yang terjadi dalam rentang waktu 5 hingga 7 Juli 2025.
Bencana yang melanda wilayah tersebut didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor, banjir, dan angin kencang akibat intensitas hujan tinggi di berbagai wilayah.
Staf Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Jalaludin, mengatakan bahwa data terbaru per tanggal 8 Juli 2025 pukul 12.00 WIB menunjukkan total kejadian mencapai puluhan titik di berbagai kecamatan.
“Bencana yang terjadi meliputi 53 kejadian tanah longsor, 23 banjir, 11 angin kencang, 2 pergerakan tanah, dan 3 bencana non-alam,” ujar Jalaludin saat dikonfirmasi.
Adapun 26 kecamatan yang terdampak bencana tersebut yaitu Kecamatan Citeureup, Gunung Putri, Rancabungur, Megamendung, Leuwisadeng, Kemang, Tamansari, Cisarua, Cijeruk, Dramaga, Tenjolaya, Caringin, Cibungbulang, Ciomas, Ciampea, Ciawi, Cigombong, Sukamakmur, Cigudeg, Babakan Madang, Klapanunggal, Cileungsi, Jonggol, Bojonggede, Leuwiliang dan Parung Panjang.
“Kami terus melakukan asesmen dan penanganan di lapangan, serta berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk mendata warga terdampak dan kerusakan infrastruktur,” ungkapnya.
Salahsatu yang terparah diwilayah Kecamatan Cileungsi yaitu berada di Desa Mampir. Banjir mencapai dada orang dewasa yang mengakibatkan 150 orang mengungsi di Kantor Desa Mampir.
Sekretaris Desa Mampir, Ricky Aditya mengatakan, bahwa setidaknya ada empat titik genangan banjir!di wilayahnya, dengan titik terparah berada di Perumahan Puri Permata.
“Kalau yang dilaporkan di grup aparatur Desa Mampir itu ada kurang lebih 4 titik. Yang terparah di Puri Permata. Perumahan Grand Mustika juga sempat menelepon subuh-subuh karena air sudah selutut orang dewasa,” ujar Ricky.
Ricky menjelaskan, air sempat masuk ke dalam masjid di Puri Permata, sehingga warga yang biasanya mengungsi ke tempat ibadah kini dievakuasi ke kantor desa.
Dirinya juga menambahkan, bahwa pihak desa bersama unsur TNI, Polri, dan kecamatan telah meninjau lokasi banjir sejak malam.
“Kami khawatir akan terjadi hujan susulan. Maka dari itu, sebagian warga dievakuasi ke kantor desa agar bisa beristirahat lebih tenang,” imbuhnya.
Meskipun sebagian warga masih bertahan di rumah masing-masing, evakuasi dilakukan secara bertahap. Pemdes Mampir juga berterima kasih kepada BPBD Kabupaten Bogor yang turut membantu proses evakuasi, meskipun tengah menangani banyak titik banjir di daerah lain.
“Alhamdulillah, semalam kami evakuasi secara bertahap dan sudah koordinasi dengan BPBD. Kami sangat berterima kasih meski banyak titik banjir, BPBD tetap hadir di Desa Mampir,” ujar Ricky.
Kondisi banjir terparah terjadi di Puri Permata dengan ketinggian air hingga sepinggang orang dewasa dan arus cukup deras. Kondisi ini dikhawatirkan membahayakan anak-anak, balita, dan lansia.
Hingga Selasa siang, jumlah pengungsi di Kantor Desa Mampir mencapai 150 jiwa. Pemerintah desa juga telah mendirikan dapur darurat yang dikelola oleh ibu-ibu PKK untuk memenuhi kebutuhan makanan para pengungsi.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dari titik banjir manapun,” pungkas Ricky.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, terutama mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah Bogor dan sekitarnya dalam beberapa hari ke depan.
BPBD Kabupaten Bogor juga menyediakan layanan darurat bagi warga yang membutuhkan bantuan atau evakuasi.
(Pandu)







