Cileungsi, SuaraBotim.Com – Kemacetan dan Minimnya Penerangan di Flyover Cileungsi, Camat Usulkan Pemasangan PJU dan Barier Beton
Pasalnya, kemacetan tersebut seringkali terjadi dibawah flyover Cileungsi akibat angkutan kota (angkot) yang mengetem dan pengendara yang berlawanan arah.
Tak hanya kemacetan, diatas flyover Cileungsi pun minimnya penerangan yang membahayakan untuk pengendara yang melintasi saat malam hari.
Camat Cileungsi, Adi Henryana menegaskan, bahwa untuk mengurai kemacetan di wilayah tersebut dibutuhkan kerja sama lintas sektor.
“Untuk mengurai kemacetan, perlu sinergi antara Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan beberapa instansi terkait lainnya,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com, Kamis (31/7/25).
Menurutnya, ada beberapa langkah strategis yang perlu segera dilakukan. Salah satunya adalah perbaikan fasilitas penerangan jalan umum (PJU) di sekitar flyover yang saat ini masih minim.
Selain itu, Adi juga menekankan, pentingnya pemasangan rambu lalu lintas, termasuk rambu larangan berhenti, serta barier beton untuk mencegah pengendara melawan arus.
“Kalau tidak ada barier beton, kendaraan cenderung melawan arus. Ini sangat membahayakan bagi pengguna jalan lainnya,” ungkapnya.
Adi juga menyampaikan, bahwa pihak Kecamatan Cileungsi telah mengusulkan pemasangan 40 titik PJU di atas flyover saat forum reses dan Musrenbang.
“Pihak Kecamatan pada saat reses dan musrembang mengajukan, bahkan terakhir mengajukan PJU diatas Flyover sebanyak 40 titik kemudian untuk barier beton dan rambu lalin,” paparnya.
Usulan lainnya termasuk pemasangan barier beton dan rambu lalu lintas tambahan di titik-titik rawan kemacetan.
Terkait terminal bayangan yang kerap menyebabkan penumpukan kendaraan, Adi menjelaskan bahwa Dinas Perhubungan menyebut hal ini terjadi karena kapasitas terminal resmi tidak mencukupi. Meski begitu, ia berharap pengaturan jadwal keberangkatan bisa lebih terstruktur.
“Minimal keberangkatan bus bisa diatur setiap lima menit agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di jalan,” katanya.
Meski usulan sudah diajukan, Adi mengakui bahwa realisasi program di Kecamatan Cileungsi masih menunggu giliran, mengingat ada daerah lain yang juga membutuhkan penanganan serupa.
“Sebetulnya sudah diajukan, hanya mungkin porsinya belum kebagian di Cileungsi, masih di daerah lain dulu sepertinya,” tutupnya.
Sementara, warga sekitar Doni (46) mengeluhkan, kurangnya penerangan jalan di flyover Cileungsi saat malam hari.
“Gelap banget, apalagi kalau pas saya pulang kerja sekitar jam 9 malem. Apalagi jalan ada yang berlubang, kan ngeri juga, ya saya berharap agar pemerintah atau dinas terkait cepat mengatasi hal ini,” pungkasnya.
(Pandu)







