Bojonggede, SuaraBotim.Com — Di mata warga sekitar, Muhammad Arrasya Alfarizky (6) hanyalah bocah pendiam yang jarang terlihat bermain di luar rumah.
Tak ada yang menyangka, di balik dinding rumah kontrakannya di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, anak kecil itu menyimpan luka bukan hanya di tubuhnya, tapi juga di hidupnya.
Sampai akhirnya, nyawa kecil itu melayang, diduga akibat penganiayaan kejam oleh ibu tirinya.
Cerita memilukan itu terungkap dari pengakuan Irma (37), tetangga yang tinggal tak jauh dari rumah korban. Ia menjadi salah satu saksi pertama yang curiga terhadap kondisi tubuh Arrasya.
“Kami sudah lapor sejak 6 Oktober ke RT, RW, dan desa. Tapi prosesnya lama. Akhirnya anak itu keburu meninggal,” kata Irma kepada SuaraBotim.Com, Kamis (23/10/25).
Irma mengaku awalnya mengira rumah keluarga Arrasya kosong karena pintunya selalu tertutup. Namun pada akhir September, sekitar tanggal 28 hingga 30, ia melihat bocah itu keluar untuk membeli kopi di warung. Saat itulah Irma mulai menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi anak tersebut.
“Saya lihat banyak luka di tubuhnya. Dari ujung kepala sampai kaki ada bekas lebam. Mata kirinya merah seperti habis kena tonjok. Di pipi kanan kiri juga lebam biru kemerahan, dan di belakang kepalanya ada benjolan besar seperti gumpalan darah,” jelasnya.
Suaminya, yang berprofesi sebagai perawat, bahkan menduga benjolan itu akibat kepala korban berkali-kali dijedotkan ke benda keras.
“Suami saya bilang itu seperti gumpalan darah di bawah kulit kepala. Bisa jadi karena dijedotin beberapa kali,” ujar Irma.
Menurut Irma, saat pertama kali melihat, tulang punggung korban tampak menonjol dan tidak normal, seperti melengkung akibat cedera berat. Lebih mengejutkan lagi, di tubuh korban juga terlihat bekas sundutan rokok.
“Di tangannya ada, di kakinya juga ada, bahkan di punggungnya. Saya sampai meraba sendiri tulang belakangnya udah kayak bengkok gitu,” tutur Irma.
Yang membuatnya tak habis pikir, meski tubuh anak itu penuh luka, ibu tiri korban tetap menyuruhnya keluar rumah untuk membeli keperluan di warung.
“Padahal jalan aja susah, tapi tetap disuruh ke warung. Kadang beli kopi buat bapaknya, kadang beli jajanan buat adiknya,” katanya.
Irma masih ingat, bagaimana anak itu tetap berusaha tersenyum meski tubuhnya penuh luka.
“Kalau anak normal pasti nangis, tapi dia enggak. Kayak udah biasa digebukin. Wajahnya tetap ceria, masih bisa ketawa waktu saya ajak ngobrol,” kenangnya.
Suatu kali, Irma memberanikan diri bertanya langsung kepada korban karena melihat luka di tubuhnya.
“Saya tanya, ‘Kamu dipukul mamah, ya?’ Dia sempat ngangguk, terus geleng lagi. Saya tanya lagi, ‘Dipukul ayah?’ Dia ngangguk, tapi geleng lagi. Dari situ saya yakin dia takut,” tutur dia.
Kecurigaan warga pun semakin kuat. Beberapa kali mereka berkoordinasi dengan pihak desa dan kepolisian. Namun, laporan baru benar-benar ditindaklanjuti setelah Arrasya meninggal dunia.
“Kami sudah coba lapor, tapi karena belum ada bukti foto atau video, jadi diminta tunggu. Pas kami udah siap mau lapor lagi, ternyata anaknya sudah meninggal,” kata Irma.
Warga di sekitar rumah korban juga mengaku tidak pernah mendengar teriakan atau tangisan dari rumah tersebut. Diduga, anak itu sudah terlalu sering mengalami kekerasan hingga terbiasa diam setiap kali dipukul.
“Mungkin karena sering digebukin, dia jadi enggak nangis lagi. Dari luar rumah sunyi, tapi ternyata di dalamnya penuh penderitaan,” tutupnya.
(Pandu)







