Cibinong, SuaraBotim.Com – Masalah kekurangan guru di Kabupaten Bogor tak kunjung usai. Menanggapi keresahan mahasiswa UIKA Bogor yang tergabung dalam KAMMI, Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Achmad Fathoni, melemparkan sebuah gagasan segar: menjadikan mahasiswa sebagai bagian dari solusi tenaga pendidik.
Gagasan ini muncul dalam diskusi hangat di Ruang Paripurna DPRD, Minggu (1/2/2026). Fathoni menilai, usulan mahasiswa untuk menerjunkan calon guru dari kampus ke sekolah-sekolah adalah ide yang sangat realistis dan “murah meriah” bagi kas daerah.
“Di kampus itu banyak calon guru. Kalau dikombinasikan dengan kebutuhan sekolah, ini bisa saling mengisi. Mahasiswa dapat tempat belajar, sekolah dapat bantuan tenaga,” kata Fathoni.
Politisi PKS ini menjelaskan, Dinas Pendidikan bisa mulai merancang skema kerja sama dengan universitas tanpa harus terbentur urusan gaji atau kontrak kerja formal. Mahasiswa bisa diterjunkan dalam kerangka praktik kerja lapangan atau pengabdian masyarakat.
“Artinya mereka membantu sambil belajar. Jadi tidak melulu soal gaji atau kontrak. Ini solusi yang bagus dan sangat mungkin diterapkan,” tambahnya.
Meski begitu, Fathoni memberikan catatan penting. Ia menantang balik kesiapan mental para mahasiswa dan pihak kampus jika ide ini benar-benar digulirkan oleh pemerintah daerah.
“Jangan sampai idenya kita respons, tapi saat ditawari kerja praktik di lapangan, mahasiswanya malah tidak siap. Perlu ada keseriusan dari pihak kampus juga,” tegasnya.
Tak hanya di bidang pendidikan, Fathoni melihat peluang kolaborasi serupa di sektor teknis, seperti pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang selama ini terkendala tenaga profesional.
Ia membayangkan jika mahasiswa teknik bisa dilibatkan dalam pembangunan fasilitas sosial atau rumah warga kurang mampu dengan supervisi dosen. Selain membantu masyarakat, biaya yang dikeluarkan pemerintah daerah pun dipastikan bakal jauh lebih terjangkau.
“Kalau melibatkan kampus, biayanya pasti lebih murah. Mungkin ada upah transportasi, tapi tetap lebih ringan bagi masyarakat. Ini solusi yang saling menguntungkan (win-win solution),” pungkasnya.
(Retza)







