SUARABOTIM.COM – Kolong Flyover Cileungsi, Kabupaten Bogor, kembali dikeluhkan warga karena diduga menjadi terminal bayangan bagi angkutan kota (angkot) yang menunggu penumpang.
Pasalnya, kondisi tersebut dinilai mengganggu kelancaran lalu lintas dan berpotensi menimbulkan kecelakaan.
Menanggapi hal itu, Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, H. Achmad Fathoni, mengaku baru mengetahui adanya kembali aktivitas angkot yang diduga menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat mangkal.
“Persepsi saya sebenarnya sudah ditertibkan, karena waktu itu langsung dipimpin Pak Bupati. Dishub, Satpol PP hingga dinas terkait sudah dikerahkan. Saya kira sudah ditangani, ini saya baru tahu lagi,” ujar Fathoni kepada SuaraBotim.Com, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, selama ini ia juga kerap melintas di kawasan Flyover Cileungsi dan mengira angkot hanya sekadar melintas, bukan berhenti lama untuk menunggu penumpang.
“Saya juga kadang lewat, saya pikir angkot hanya lewat saja. Tapi kalau memang jadi terminal bayangan dalam arti ngetem lama dan mengganggu lalu lintas, nanti akan kita teruskan ke Dishub karena yang punya kewenangan itu Dishub,” katanya.
Ia menegaskan, angkutan umum yang beroperasi di wilayah tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Perhubungan (Dishub), sehingga penanganannya harus dilakukan oleh instansi terkait.
Fathoni juga menekankan, penataan kawasan kumuh, termasuk di sekitar flyover, merupakan salah satu program prioritas Bupati Bogor yang harus dijalankan secara konsisten oleh seluruh perangkat daerah.
“Yang jelas ini menjadi program unggulan Pak Bupati untuk merapikan kawasan, termasuk di sekitar flyover. Saya rasa Dishub harus mengikuti apa yang sudah diperintahkan pimpinan,” tegasnya.
Terlebih, Politisi PKS itu juga memastikan, akan meneruskan keluhan masyarakat tersebut kepada dinas terkait agar segera dilakukan penertiban.
“Nanti biar saya teruskan ke dinas supaya ditindaklanjuti. Kita berharap kalau ada pelanggaran harus ditindak, jangan dibiarkan. Kalau tidak konsisten, nanti akan seperti dulu lagi,” ungkapnya.
Sebelumnya, para pengguna jalan mengeluhkan banyaknya angkutan umum yang mangkal di kolong Flyover Cileungsi untuk mencari penumpang.
Salah seorang pengendara sepeda motor, Asri, mengatakan angkot kerap berhenti mendadak di dekat lampu lalu lintas untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.
“Selain ngetem, angkutan umum di sini sering berhenti tiba-tiba di tengah jalan dekat lampu merah untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Hal ini sangat mengganggu arus lalu lintas dan sering memicu stres bagi pengguna jalan lain,” keluhnya.
Menurutnya, angkutan umum seharusnya menjadi solusi transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat. Namun kenyataannya di lapangan masih banyak angkot yang berhenti sembarangan bahkan nekat menerobos lampu merah.
Ia berharap, Dinas Perhubungan dan pihak kepolisian tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut.
“Penertiban harus konsisten. Jangan menunggu ada korban dulu baru bertindak,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Sarip, warga Kecamatan Cileungsi, yang mengaku sering terjebak kemacetan akibat angkot yang ngetem di kawasan flyover.
“Hampir setiap sore di sekitar Flyover Cileungsi pasti macet karena puluhan angkot ngetem sembarangan. Mereka seperti membuat terminal bayangan sendiri dan menutup akses jalan,” tutupnya.
(Pandu)







