SUARABOTIM.COM – Dampak konflik di kawasan Timur Tengah mulai dirasakan para pelaku usaha di daerah, salah satunya pedagang plastik di Pasar Bojonggede, Kabupaten Bogor.
Lonjakan harga bahan baku disebut menjadi pemicu utama kenaikan harga berbagai jenis plastik yang kini mencapai hingga 100 persen.
Salah satu pedagang plastik di Pasar Bojonggede, Muslim (48) mengungkapkan, kenaikan harga terjadi secara bertahap sejak awal Ramadan dan terus meningkat hingga setelah Lebaran.
“Untuk saat ini kenaikannya bervariasi, ada yang mencapai 50 persen sampai 100 persen. Tapi itu tidak semua, hanya sebagian jenis saja. Rata-rata kenaikan ada di kisaran 30 sampai 70 persen,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, jenis plastik yang mengalami kenaikan paling tinggi hingga 100 persen adalah kantong plastik bening. Sementara itu, plastik jenis putih susu dan hitam mengalami kenaikan lebih rendah, yakni sekitar 30 persen.
“Hampir semua jenis plastik naik harganya,” jelasnya.
Kenaikan harga ini juga berdampak langsung pada harga jual di tingkat pedagang. Muslim menyebut, harga satu bungkus plastik yang sebelumnya dijual Rp5.000 kini melonjak menjadi Rp9.000.
“Mau tidak mau kita ikut naikkan karena modalnya juga naik,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi harga yang tidak stabil membuat pedagang kesulitan menentukan harga jual. Bahkan, pedagang yang tidak mengikuti perkembangan harga berisiko merugi.
“Sekarang pasarannya tidak menentu. Kalau kita tidak update, bisa jual harga lama, tapi besok pas belanja sudah tidak bisa beli lagi dengan harga segitu,” ungkapnya.
Di sisi lain, kenaikan harga ini juga berdampak pada daya beli masyarakat. Banyak pembeli yang awalnya terkejut dengan harga baru dan menunda pembelian.
“Pembeli kaget, kadang tidak jadi beli. Tapi setelah tanya ke toko lain ternyata sama, akhirnya balik lagi,” ucapnya.
Meski demikian, Muslim mengakui, kenaikan harga tetap memengaruhi omzet penjualan yang cenderung fluktuatif dan tidak menentu.
“Kadang berkurang, kadang naik lagi. Tidak stabil. Tapi jelas minat pembeli berkurang,” katanya.
Terkait penyebab kenaikan, Muslim menyebut informasi yang ia terima dari distributor menyebutkan bahwa pasokan bahan baku plastik terganggu akibat konflik di Timur Tengah.
“Katanya bahan baku tidak masuk, jadi produksi terganggu. Tapi itu dari distributor, kita juga tidak tahu pasti,” jelasnya.
Ia berharap, agar harga plastik dapat kembali stabil supaya aktivitas perdagangan tidak terganggu.
“Harapannya bisa stabil lagi. Tidak harus seperti dulu, tapi minimal turun, misalnya dari kenaikan 70 persen jadi sekitar 20 persen,” tutupnya.
(Pandu)







