SUARABOTIM.COM – Antrean panjang terjadi di Jembatan Gantung Darurat Wika yang menghubungkan wilayah Gunung Putri dan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, pada Kamis (16/7/2026).
Sejak pagi hari, ratusan warga mulai dari pelajar hingga pekerja harus mengantre untuk menyeberangi Sungai Cileungsi akibat terbatasnya kapasitas jembatan sementara tersebut.
Jembatan gantung darurat yang dibangun sebagai akses pengganti selama proses rekonstruksi Jembatan Utama hanya mampu menampung maksimal 10 orang dalam satu kali penyeberangan.
Kondisi itu menyebabkan antrean mengular pada jam sibuk, terutama saat masyarakat berangkat menuju sekolah maupun tempat kerja.
Tak sedikit warga yang memilih mengambil risiko dengan menyeberangi Sungai Cileungsi melalui bebatuan demi menghemat waktu, meski jalur tersebut dinilai berbahaya.
Salah seorang pekerja, Andre, mengaku dirinya terpaksa terlambat masuk kerja karena harus menghadapi antrean panjang di jembatan darurat.
“Saya pagi-pagi tadi sudah buru-buru banget, eh ternyata antreannya panjang banget. Otomatis telat ini mah, mau enggak mau,” ujarnya.
Andre mengaku sempat mengurungkan niat menggunakan jembatan gantung karena antrean yang terlalu panjang. Ia memilih menyeberang melalui dasar sungai dengan berjalan di atas bebatuan.
“Tadi pagi saya enggak lewat jembatan karena antreannya panjang banget. Jadi saya lewat bawah ke sungai, lewat bebatuan. Walaupun bahaya, mau enggak mau biar waktu enggak kepangkas banyak,” katanya.
“Gimana lagi ya, saya juga bingung. Mau gunakan jalan muter sesuai yang di anjurkan, tapi tempat kerja saya deket disini doang deket sama jembatan,” tukas dia.
Kondisi serupa juga dialami para pelajar. Salah satunya Ridho, siswa SMP yang setiap hari melintasi kawasan tersebut untuk berangkat ke sekolah.
Ridho mengaku lebih memilih menyeberangi Sungai Cileungsi dibanding harus mengantre lama di jembatan gantung darurat. Namun, ia mengaku tetap khawatir karena bebatuan di sungai cukup licin.
“Takut jatuh soalnya batu yang di bawah ada yang licin, jadi harus hati-hati banget,” ucap Ridho.
Ia juga mengatakan keterlambatannya ke sekolah disebabkan harus mencari jalur alternatif.
“Saya bilang ke guru saya telat karena harus cari jalan lain. Soalnya jembatannya antre banget. Saya naik angkot dua kali, dari rumah ke jembatan, terus nyebrang, habis itu naik angkot lagi. Tapi mending gini dari pada harus muter terus jauh banget,” tuturnya.
Jembatan gantung darurat tersebut dibangun sebagai solusi sementara agar aktivitas masyarakat tetap berjalan selama proses pembangunan ulang Jembatan Wika yang menjadi akses vital penghubung Kecamatan Gunung Putri dan Klapanunggal.
Meski keberadaan jembatan sementara sangat membantu mobilitas warga, kapasitas yang terbatas membuat antrean tidak terhindarkan, terutama pada jam berangkat kerja dan sekolah. Kondisi ini mendorong sebagian warga memilih jalur sungai yang lebih cepat, meski memiliki risiko keselamatan yang tinggi.
Warga berharap adanya penambahan fasilitas penyeberangan atau pengaturan arus yang lebih efektif agar antrean dapat dikurangi dan masyarakat tidak lagi mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi Sungai Cileungsi melalui bebatuan.
Sebagai informasi, proses rekonstruksi Jembatan Wika saat ini masih berlangsung dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2026. Selama pembangunan berlangsung, jembatan gantung darurat menjadi satu-satunya akses penyeberangan bagi masyarakat di kawasan tersebut.
(Pandu)







