SUARABOTIM.COM – Pengamat kebijakan publik sekaligus Founder Lembaga Study Visi Nusantara Maju (LS Vinus), Yusfitriadi, menyoroti maraknya penangkapan ikan sapu-sapu yang dilakukan pemerintah daerah dan komunitas lingkungan.
Menurutnya, persoalan utama kerusakan ekosistem perairan bukan semata keberadaan ikan sapu-sapu, melainkan pencemaran limbah dan buruknya kualitas lingkungan sungai.
Yusfitriadi menilai, ikan sapu-sapu kerap dijadikan kambing hitam atas rusaknya ekosistem perairan. Padahal, kata dia, spesies tersebut mampu bertahan hidup karena memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi air tercemar.
“Jangan salahkan ikan sapu-sapu. Yang harus disalahkan itu limbahnya. Kalau limbah masih ada, mau semua ikan sapu-sapu diangkat juga ikan lokal tetap tidak akan hidup,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com, Rabu (20/5/26).
Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif asal Amerika Latin yang memang bukan habitat asli Indonesia. Namun menurutnya, banyak ikan lain non-endemik yang juga hidup di Indonesia dan tidak dipersoalkan secara berlebihan.
“Kadang saya bingung kenapa sapu-sapu terus yang disalahkan. Itu ikan kecil dan kuat bertahan hidup karena tahan limbah. Sementara ikan lokal mati karena kualitas air sudah buruk,” katanya.
Menurut Yusfitriadi, kondisi sungai dan situ yang tercemar menjadi penyebab utama hilangnya habitat ikan lokal seperti ikan mas, benteur, gurame hingga nila yang membutuhkan air bersih untuk berkembang hidup.
“Ikan sapu-sapu bisa hidup di lumpur dan air kotor. Sementara ikan lokal membutuhkan air jernih dan debit air yang cukup. Jadi yang harus dibenahi adalah kualitas lingkungannya,” jelasnya.
Ia juga menyoroti persoalan irigasi dan kerusakan kawasan hulu yang dinilai berpengaruh terhadap menurunnya kualitas perairan di wilayah Bogor.
Selain itu, ia meminta pemerintah lebih tegas terhadap industri yang diduga mencemari sungai melalui pembuangan limbah.
“Kenapa suplai air berkurang? Kenapa irigasi tidak berjalan? Kenapa pabrik yang buang limbah tidak dicabut izinnya? Itu yang harus diselesaikan,” tegasnya.
Yusfitriadi menambahkan, upaya penangkapan ikan sapu-sapu tetap boleh dilakukan sebagai bagian dari pengendalian populasi.
Namun ia mengingatkan agar langkah tersebut tidak dijadikan solusi utama tanpa pembenahan serius terhadap pencemaran lingkungan dan tata kelola sumber daya air.
“Kalau lingkungannya tetap rusak, maka persoalan ekosistem tidak akan selesai hanya dengan menangkap ikan sapu-sapu,” pungkasnya.
(Pandu)







