SUARABOTIM.COM – Sejumlah wilayah di Kabupaten Bogor mulai mengalami kekeringan akibat anomali iklim dan musim kemarau yang mulai berlangsung sejak awal Juni 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor pun meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi dampak yang lebih luas pada masyarakat.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bogor, Ade Hasrat, mengatakan pihaknya terus bersiaga karena kondisi kekeringan yang terjadi saat ini diperkirakan baru memasuki tahap awal.
”Kami tetap terus bersiaga karena kelihatannya ini baru awal kekeringan. Insyaallah kami sudah siap untuk melakukan penanggulangan,” ujar Ade Hasrat kepada SuaraBotim.Com, Minggu (21/6/2026).
Ade memaparkan, berdasarkan data yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau di Kabupaten Bogor diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026.
”Kami mendapat data dari BMKG bahwa puncak kekeringan diprediksi terjadi pada bulan Agustus dan September. Jika Agustus menjadi puncak tertinggi, maka kondisi kemarau diperkirakan akan berakhir sekitar Oktober,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi krisis air bersih, BPBD Kabupaten Bogor telah melakukan berbagai langkah mitigasi jauh sebelum musim kemarau tiba. Salah satunya dengan menginstruksikan pengisian dan persiapan ratusan toren air yang telah dibangun di berbagai wilayah.
”Sejak Februari kami sudah memberikan peringatan. Salah satunya melalui surat agar seluruh toren yang dibangun bersama DPKPP dapat diisi dan dipersiapkan saat musim hujan. Total ada 189 toren yang telah kami siagakan,” kata Ade.
Menurutnya, lanjut Ade, sosialisasi terkait potensi kekeringan dan langkah antisipasi juga telah dilakukan kepada masyarakat dan pemerintah desa agar lebih siap menghadapi musim kemarau tahun ini.
Namun, Ade juga menjelaskan, musim kemarau di Kabupaten Bogor mulai terasa sejak awal Juni 2026 dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
Selain distribusi air bersih melalui toren, program pembangunan sumur bor juga dinilai efektif dalam membantu masyarakat menghadapi kekeringan.
”Program sumur bor sangat membantu. Tahun lalu Kodim, atas perintah Panglima TNI, membangun 21 titik sumur bor. Ini cukup berpengaruh karena wilayah yang memiliki sumur bor sejauh ini tidak mengajukan permintaan bantuan air bersih kepada kami meskipun musim kemarau sudah meningkat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberadaan toren air yang telah disiagakan juga terbukti bermanfaat dalam menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat di sejumlah wilayah rawan kekeringan.
”Dengan toren yang sudah kami siagakan, kebutuhan air bersih masyarakat dapat tetap terpenuhi ketika terjadi kekeringan,” tandasnya.
(Pandu)







