Gunung Putri, SuaraBotim.Com – Banjir masih melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, meski Pemerintah telah melakukan revitalisasi terhadap tujuh situ yang berada di wilayah tersebut.
Peristiwa banjir terjadi beberapa hari lalu dan sempat menggenangi permukiman warga di sejumlah titik. Banjir diketahui berasal dari luapan aliran irigasi yang mengarah ke Setu Wanaherang.
Namun demikian, Camat Gunung Putri, Kurnia Indra, menegaskan bahwa sumber utama luapan air bukan berasal dari setu, melainkan dari persoalan tanggul perumahan.
“Banjir kemarin terjadi di wilayah Griya Jaya Cikeas dan Cikeas Gardenia. Tapi itu sifatnya hanya sementara, airnya lewat saja,” ujar Kurnia Indra kepada wartawan, Selasa (6/1/2026).
Ia menjelaskan, luapan air dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengakibatkan aliran irigasi menuju Setu Wanaherang meluap. Meski demikian, ia memastikan bahwa kondisi setu tidak meluap secara signifikan.
“Bukan setunya yang meluap, tapi aliran irigasinya,” jelasnya.
Namun, Camat Gunung Putri juga menyebut, tanggul salah satu perumahan yang diduga menjadi penyebab banjir diwilayah tersebut.
“Penyebab utamanya adalah tanggul perumahan yang bermasalah. Kami sudah cek bersama PUPR dan langsung dilakukan penanganan awal atas perintah Pak Bupati,” jelasnya.
Sebagai langkah darurat, Pemerintah Kecamatan Gunung Putri melakukan pemasangan bronjong sementara di lokasi tanggul yang bermasalah dengan panjang sekitar 45 meter.
Ketinggian genangan air saat banjir dilaporkan mencapai sekitar setengah meter, namun air cepat surut.
“Penanganan pertama dilakukan dengan bronjong sementara. Mudah-mudahan tahun ini bisa ditangani secara permanen,” katanya.
Dalam penanganan banjir tersebut, berbagai unsur turut dikerahkan, mulai dari Tim Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana), BPBD, Destana, hingga PLN.
Kurnia Indra menambahkan, normalisasi terhadap tujuh situ di Kecamatan Gunung Putri sebenarnya telah dilakukan pada tahun ini. Seluruh situ telah dikeruk sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir.
“Kalau normalisasi setu sudah dilakukan semua tahun ini, tujuh situ sudah dikeruk. Tapi saluran irigasi ini memang masih menjadi pekerjaan rumah karena panjang dan harus terus dirapikan,” pungkasnya.
(Pandu)







