SUARABOTIM.COM – Sebanyak 97 Kampung Ramah Lingkungan (KRL) di wilayah Bogor Timur menerima bantuan 244 unit mesin dan peralatan pengelolaan lingkungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor.
Bantuan tersebut merupakan hasil perjuangan aspirasi anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, H. Achmad Fathoni.
Penyerahan bantuan dilaksanakan di KRL Camelia, RW 17, Perumahan Cibubur Country, Desa Cikeas Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Minggu (8/11/26) pagi.
Bantuan itu didistribusikan kepada KRL yang tersebar di tujuh kecamatan, yakni Gunung Putri, Klapanunggal, Cileungsi, Jonggol, Tanjungsari, Cariu, dan Sukamakmur.
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, H. Achmad Fathoni mengatakan, penyaluran bantuan tersebut merupakan tahun keempat dirinya memperjuangkan dukungan bagi para pegiat KRL di Kabupaten Bogor.
“Tahun ini nilai secara ekonominya sekitar Rp600 jutaan dari APBD yang diwujudkan dalam 244 mesin dan alat. Untuk bantuan berukuran besar ada tiga unit baktor atau motor roda tiga,” kata Fathoni kepada SuaraBotim.Com.
Selain tiga unit motor roda tiga, kata Fathoni, bantuan tersebut mencakup 10 jenis mesin dan peralatan pendukung lainnya yang dialokasikan untuk 97 KRL.
Namun, Fathoni mengucapkan, terdapat satu KRL yang tidak mengajukan bantuan karena sebelumnya telah beberapa kali menerima bantuan.
“Ada satu KRL yang memang karena sudah dapat bantuan juga beberapa tahun sebelumnya ,dia tidak mengajukan dan dialihkan oleh yang lain,” terangnya.
Fathoni menjelaskan, keberadaan KRL sangat bergantung pada partisipasi dan keaktifan masyarakat. Karena itu, pemerintah daerah perlu terus memberikan perhatian agar semangat masyarakat dalam menjaga lingkungan tetap terpelihara.
“Kalau kita melihat, KRL ini murni mengandalkan keaktifan masyarakat. Masyarakat yang mau bergerak dan berdaya. Namun, masyarakat seperti ini juga bisa mengalami titik jenuh. Di sinilah perlu kehadiran pemerintah daerah untuk memberikan atensi,” ujarnya.
Politisi PKS itu juga menuturkan, dukungan pemerintah tidak hanya berupa bantuan peralatan, tetapi juga edukasi dan pendampingan agar para pegiat KRL dapat terus mengembangkan kegiatan pengelolaan lingkungan di wilayah masing-masing.
Ia menilai, bantuan fisik seperti mesin dan peralatan menjadi salah satu bentuk dukungan yang manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat.
Selama empat tahun memperjuangkan bantuan tersebut, Fathoni mengaku melihat para pegiat KRL tidak hanya berorientasi pada besaran bantuan yang diterima. Mereka juga menunjukkan keinginan untuk belajar dan mengembangkan kemampuan melalui komunikasi serta pertukaran pengalaman dengan KRL lainnya.
“Mereka justru ketika masih kecil, bertanya bagaimana caranya agar bisa mendapatkan bantuan lebih besar. Mereka belajar dari KRL yang sudah mendapatkan bantuan besar. Sehingga mereka saling berkomunikasi dan mendapatkan edukasi,” tutupnya.
(Penulis: Pandu Maulana)






