SUARABOTIM.COM – Suasana Car Free Day (CFD) Tegar Beriman, Cibinong Kabupaten Bogor, pada Minggu (2/8/26) tampak berbeda dari biasanya.
Pasalnya, para pedagang dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang membuka lapak kompak mengenakan pakaian adat khas Sunda sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus memperkuat identitas daerah.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto mengatakan, penggunaan pakaian adat Sunda oleh para pelaku UMKM merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dalam mengangkat kembali nilai-nilai budaya lokal.
Menurut Rudy, konsep pembangunan kawasan Alun-Alun Kabupaten Bogor juga mengedepankan identitas Sunda, bukan sekadar membangun infrastruktur baru.
”Saat membangun Alun-Alun Kabupaten Bogor, kami tidak membangun dari nol. Kami hanya menggeser pagar Kantor Pemerintah Kabupaten Bogor, membangun Tugu Tri Tangtu Di Buana, merevitalisasi Tugu Lawangkori, serta menghadirkan beberapa ikon Sunda lainnya,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com.
Ia menambahkan, langkah sederhana seperti mengajak para pelaku UMKM mengenakan pakaian adat Sunda juga memiliki makna yang besar.
”Para pelaku UMKM kami ajak memakai pakaian adat Sunda. Orang Bogor adalah orang Sunda. Kami hanya berupaya mengembalikan marwah dan kehormatan orang Bogor, bahwa sejatinya orang Bogor adalah orang Sunda,” tegasnya.
Sementara, seorang pedagang dimsum dan es mambo di kawasan CFD, Deby (33), mengaku antusias mengikuti imbauan tersebut dengan mengenakan kebaya Sunda saat berjualan.
”Alhamdulillah jadi lebih ramai, lebih menarik. Untungnya saya sudah punya kebaya, jadi tinggal dipakai. Katanya setiap Minggu memang diminta memakai pakaian adat Sunda,” kata Deby.
Ia mengaku merasa nyaman mengenakan kebaya selama berjualan dan menilai kebijakan tersebut menjadi cara yang baik untuk melestarikan budaya Sunda.
”Saya nyaman pakai kebaya. Bagus juga untuk melestarikan budaya dan adat Sunda, apalagi kita kan tinggal di Bogor,” ujarnya.
Menurut Deby, penampilannya dengan kebaya juga menarik perhatian para pengunjung CFD. Banyak pembeli yang mengabadikan dirinya menggunakan telepon genggam.
”Banyak yang videoin. Mungkin karena unik, jadi mereka senang dan merekam,” tuturnya.
Deby mengatakan dirinya berjualan setiap hari Minggu mulai pukul 05.00 hingga 11.00 WIB dengan menjajakan dimsum dan es mambo. Di hari biasa, ia berjualan di dekat rumahnya dengan menyewa lahan di pinggir jalan.
Lebih lanjut, Deby juga mengaku pendapatannya meningkat sejak berjualan di kawasan CFD ketika berjualan menggunakan baju kebaya khas Sunda.
”Alhamdulillah ramai,” pungkasnya.
(Pandu)







