Babakan Madang, SuaraBotim.Com – Sejumlah rumah warga dekat kediaman Presiden Prabowo kembali terdampak pergeseran tanah, tepatnya di Kampung Curug, desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, pada Selasa 4 Maret 2025.
Staf Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Jalaludin mengatakan, bencana pergerakan tanah tersebut berlokasi di Kampung Curug, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang.
“Dikarenakan hujan dengan intensitas tinggi yang cukup lama serta kondisi tanah yang labil, mengakibatkan pergeseran tanah dilokasi tersebut sehingga mengakibatkan beberapa unit rumah mengalami kerusakan,” ujarnya dalam keterangan.
Untuk korban terdampak, lanjut Jalaluddin, dalam peristiwa tersebut tercatat sebanyak 67 rumah dari 67 Kartu Keluarga dan 271 jiwa.
“Korban mengungsi ada 43 kk dari 168 jiwa, korban mengungsi dikontrakan terdekat diwilayah Bojong Koneng dan sebagian mengungsi dirumah saudaranya,” terangnya.
Menurut arahan dari Bupati Bogor, rumah yang terdampak sudah di ungsikan ke kontrakan.
“Tenda kemensos sudah didirikan untuk antisipasi bilamana pergerakan tanah kembali, digunakan untuk titik kumpul dan Dinas Kesehatan standby dilokasi apabila ada pengungsi yang sakit,” tuturnya.
Sementara, salahsatu warga M Sanusi (52) menjelaskan, bencana alm tersebut sudah terjadi sekitar empat malam pada saat hujan deras.
“Lagi di rumah lagi tarawih, tiba-tiba pas pagi ketawan retak-retak disini. Terus yang paling parahnya lagi pas awal, hujannya dari jam 6 sampe jam 6 lagi pagi, 12 jam,” katanya.
Sanusi menjelaskan, beberapa bagian pada rumahnya mengalami kerusakan yang cukup parah, sehingga membuat dirinya membawa barang-barangnya keluar dari rumah tersebut.
“Ini retak-retak, baru seperti rumah saya. Sampai dapurnya habis terbawa (ambles). Panik lah, siapa yang tidak panik oyag-oyag di dalam rumah, kejadiannya jam 19.00 wib malam,” jelasnya.
“Jangan pikir ini retaknya ga maju, ini setiap hari (retaknya) maju. Dari mulai hari sabtu, minggu, senin, sekarang selasa nambah parah,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sanusi menilai kondisi rumahnya saat ini sudah mengalami kerusakan yang cukup parah, sehingga warga meminta agar adanya relokasi dari Pemerintah.
“Saya dari tahun 2013 masih bisa diisi ini rumah, sekarang mah tahun 2025 udah ga bisa diisi lagi saya mau mengungsi,” ujarnya.
Selain itu, warga juga merasa khawatir jika hujan kembali turun, karena dikhawatirkan adanya pergeseran tanah kembali terjadi, dan menyebabkan kerusakan dapat berdampak parah.
“Emang kemauan warga, kalo misalkan masih diem disini mungkin karena kepanikan-kepanikan pasti masih ada. Tiap tahun musim hujan, gini terus gini terus, mending relokasi secepat-cepatnya,” ucapnya.
Dirinya berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dapat segera mengambil langkah nyata untuk segera merelokasi warga Desa Bojong Koneng ke tempatnya lebih aman.
“Belum sih, tapi masyarakat kalo mau direlokasi maunya di Cikeas. Belum, makanya tadi saya pagi jam 9 ngajak teman-teman untuk menemui aparat-aparat kenapa kita di diemin terus. Kemana kita harus mengungsi gitu,”tutupnya.
(pandu)







