SuaraBotim.com – Tragedi jatuhnya pesawat latih ringan Quicksilver GT500 di Ciampea, Bogor, pada Minggu (3/8/2025) menyita perhatian publik. Insiden tersebut merenggut nyawa Marsma TNI Fajar Adriyanto, mantan Kadispenau, dan melukai kopilot Roni, yang kini masih dirawat intensif. Di balik peristiwa memilukan itu, publik bertanya: pesawat seperti apakah Quicksilver GT500 itu?
Apa Itu Quicksilver GT500?
Quicksilver GT500 adalah pesawat microlight (ultralight aircraft) buatan Quicksilver Manufacturing Inc., Amerika Serikat. Dirancang sebagai pesawat dua tempat duduk dalam konfigurasi tandem (belakang-depan), GT500 masuk kategori pesawat ringan olahraga (light-sport aircraft).
Ciri khasnya adalah:
– Desain rangka tubular aluminium terbuka atau semi-tertutup.
– Sayap tinggi (high wing), memudahkan visibilitas dan kontrol.
– Mesin pendorong (pusher engine), biasanya menggunakan Rotax 582 atau 912UL.
– Kemampuan lepas landas dan mendarat dalam jarak pendek (STOL – short takeoff and landing).
Fungsi & Penggunaan
GT500 biasa digunakan untuk:
– Pelatihan pilot pemula (latihan dasar dan profisiensi).
– Kegiatan aero sport dan rekreasi.
– Survei udara dan pemetaan ringan.
– Demonstrasi atau edukasi dirgantara, seperti yang dilakukan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).
Dalam konteks Indonesia, GT500 banyak digunakan oleh FASI yang dibina langsung oleh TNI AU, sebagai bagian dari pembinaan minat dirgantara sipil-militer.
Spesifikasi Teknis (Varian Standar)
Spesifikasi Detail
– Panjang ± 5,6 meter
– Rentang Sayap ± 9,7 meter
– Bobot Kosong ± 275 kg
– Bobot Maksimum ± 550 kg
– Kecepatan Maksimum ± 140–160 km/jam
– Jarak Tempuh ± 400–500 km
– Mesin Rotax 582 / Rotax 912UL
– Sistem Kemudi Konvensional (yoke/rudder)
– Sistem Parasut Darurat Tidak selalu tersedia
Keamanan dan Risiko
Walau tergolong aman dalam kelasnya, GT500 tetap memiliki batasan:
– Stabilitas rendah dalam kondisi cuaca buruk.
– Sensitif terhadap angin silang dan turbulensi.
– Tidak dirancang untuk manuver aerobatik ekstrem.
– Umumnya tidak dilengkapi sistem navigasi canggih seperti autopilot.
Namun demikian, jika dioperasikan dalam prosedur yang benar dan cuaca mendukung, pesawat ini sangat ideal untuk latihan dan edukasi awal dunia kedirgantaraan.
Insiden di Ciampea:
Kecelakaan yang terjadi 3 Agustus lalu terjadi saat pesawat melakukan sortie kedua latihan profisiensi yang telah mendapat Surat Izin Terbang (SIT) dan dinyatakan laik terbang. Menurut saksi mata, pesawat sempat terlihat oleng dan berputar sebelum akhirnya jatuh di area TPU Astana tanpa menimbulkan ledakan.
(Arsyit Syarifudin)







