Citeureup, SuaraBotim.Com – Aksi pengendara sepeda motor yang kerap melawan arus di jalan sekitar Pasar Citeureup, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, menuai keluhan dari warga sekitar.
Perilaku membahayakan tersebut disebut sudah menjadi pemandangan sehari-hari, terutama di pagi dan sore hari, dan bahkan telah menyebabkan sejumlah kecelakaan lalu lintas, termasuk yang merenggut nyawa.
Lilis Suryani (51), seorang pedagang sandal di ruko sepanjang Jalan Citeureup, mengungkapkan, keresahannya terhadap fenomena tersebut yang terjadi setiap waktu bahkan setiap hari.
Ia menyebut, pelanggaran lawan arah bukan hanya melanggar aturan, tapi juga sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan lain, termasuk dirinya sebagai pedagang yang sehari-hari berada di pinggir jalan.
“Lawan arah itu bahaya banget. Di sini tuh sering banget ada kecelakaan, bahkan ada yang sampai meninggal. Tapi orang-orang tetap aja ngelakuin,” ujar Lilis saat ditemui di tokonya kepada SuaraBotim.Com, Senin (28/7/25).
Menurutnya, pelanggaran tersebut kerap terjadi pada jam-jam sibuk, seperti pukul 08.00-09.00 pagi dan sore hari saat para pekerja pulang.
Lebih lanjut, kata dia. kebanyakan pelanggar adalah pengendara motor yang enggan memutar balik dan memilih jalur lawan arah demi menghemat waktu.
“Kalau siang mah jarang, tapi pagi sama sore rame banget. Motor aja yang sering lawan arah, mobil sih enggak, mereka udah pada tahu aturan,” katanya.
Ia juga menyoroti, lemahnya penegakan aturan di lokasi tersebut. Meski sesekali terlihat patroli dari Satpol PP dan pihak kepolisian seperti saat operasi Patuh Lodaya, namun tindakan tegas masih kurang konsisten.
“Kalau ada petugas mah mereka takut, enggak berani lawan arah. Tapi kalau petugasnya enggak ada, ya bebas. Tadi aja, mobil patroli dipalangin, masih ada kakek-kakek yang naik trotoar segala, enggak peduli aturan,” tuturnya.
Lilis yang sudah berdagang di lokasi itu selama hampir tujuh tahun mengaku khawatir atas keselamatannya dan pejalan kaki lainnya. Ia menyebut trotoar yang seharusnya aman justru sering diserobot oleh pemotor yang melawan arus saat jalanan macet.
“Kadang lewat trotoar depan toko saya. Saya suka bilang ya Allah… ini jalan udah satu arah, masih juga pada nekat. Bahaya banget, bisa nabrak orang. Undang-undangnya jelas dilarang, tapi banyak yang bandel,” keluhnya.
Ia berharap, ada pengawasan yang lebih rutin dan sanksi tegas dari aparat, agar jalanan menjadi lebih aman bagi semua pengguna jalan, khususnya pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang paling rentan jadi korban.
Sementara itu, Ramadhan (24) salah satu pengendara motor yang melintas, turut merasa kesal dengan para pelanggar yang nekat melawan arus.
“Jujur saya juga geram. Ini jalan satu arah, tapi banyak yang seenaknya sendiri. Ujung-ujungnya bikin macet, bikin bahaya juga buat kita yang udah bener,” cetusnya.
(Pandu)







