Klapanunggal, SuaraBotim.Com – Kasus keracunan massal yang menimpa siswa yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bantuan gratis (MBG) yang disalurkan di sekolah-sekolah.
Kasus tersebut sebelumnya terjadi di wilayah Kota Bogor dan Cianjur, sebanyak ratusan siswa mengalami keracunan.
Peristiwa ini memicu perhatian serius dari anggota Komisi IX DPR RI Achmad Ru’yat. Ia menegaskan, pentingnya evaluasi menyeluruh atas program makan gratis ini.
“Di Kota Bogor dan Cianjur, tentunya ini harus dievaluasi dan diperbaiki. Bukan malah peristiwanya dihapuskan begitu saja,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com, Senin (12/5/25).
Dirinya menambahkan, pihaknya telah aktif mensosialisasikan pentingnya standar keamanan makanan di sejumlah wilayah di Daerah Pemilihan Jawa Barat V, seperti Parung, Ciawi, Klapanunggal, dan Cileungsi.
Ru’yat juga menyoroti, terkait distribusi makanan yang harus mematuhi standar ketat demi menjaga keselamatan siswa.
“Satu dapur umum biasanya memenuhi kebutuhan makan untuk sekitar 3.000 siswa, dikirim setiap hari. Jarak distribusi tidak boleh terlalu jauh agar makanan tidak basi. Standarnya paling lama 10 sampai 15 menit perjalanan,” jelasnya.
Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni, mengajak semua pihak untuk belajar dari insiden ini.
“Dari evaluasi di tempat lain, kita bisa belajar. Semoga kejadian serupa tidak terulang lagi. Kalau dari sekian juta penerima, insiden ini memang hanya sebagian kecil, masih dalam batas wajar, meskipun idealnya tidak boleh terjadi,” ungkapnya Fathoni.
“Harus ada monitoring yang lebih ketat agar keselamatan para siswa tetap terjaga,” tutupnya
(Pandu)







