Cibinong, SuaraBotim.Com – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) online di Kabupaten Bogor menuai berbagai keluhan dari orang tua siswa.
Meski tujuannya untuk menciptakan sistem yang transparan dan menghindari praktik titipan, banyak warga merasa sistem ini masih menyulitkan, terutama bagi mereka yang kurang memahami teknologi.
Susi, warga Ciriung, mengungkapkan bahwa meski mendukung sistem digital demi keadilan dalam proses penerimaan, kenyataan di lapangan masih jauh dari harapan.
Ia mengaku, harus bolak-balik mengurus berbagai persyaratan karena sistem yang tidak sepenuhnya berjalan optimal.
“Tujuannya bagus, biar gak ada jalur belakang. Tapi kasihan orang tua yang gaptek, sampai ada yang nyerah dan bilang ‘yaudah swasta aja deh, ga sekolah tahun ini’. Ribet banget,” ungkap Susi di Disdik Kabupaten Bogor, Rabu (2/7/25).
Masalah utama yang ia alami adalah terkait dokumen Kartu Keluarga (KK) yang harus dibarcode untuk keperluan pendaftaran. Padahal, ia sudah mengubah alamat dan membuat barcode enam bulan sebelumnya, namun tetap harus datang langsung karena sistem belum otomatis memperbarui data.
“Kirain sistemnya udah canggih, ternyata masih manual. Saya harus datangin ke sekolah biar dibenerin,” ujarnya.
Ia juga menyayangkan, minimnya sosialisasi dari pihak Disdik kepada orang tua murid. Menurutnya, informasi penting seperti ini seharusnya disampaikan jauh-jauh hari melalui guru di sekolah.
“Sosialisasinya seperti mendadak, saya sampai dua hari mondar-mandir urus dokumen. Harusnya dinas turun ke sekolah, guru teruskan ke orang tua. Banyak yang KTP-nya beda, jadi bingung pas daftar,” terangnya.
Hal senada disampaikan Anton (32), salah satu orang tua siswa dari Desa Kaum Pandak, Karadenan.
Ia datang ke kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor untuk melakukan registrasi ulang setelah gagal login, karena tidak mendapat username saat mendaftar online.
“Ternyata kita harus registrasi ulang karena belum dapet username. Saya sudah coba lewat sekolah, tapi disuruh langsung ke dinas. Mungkin sistemnya memang belum maksimal,” ujar Anton.
Ia juga menambahkan, bahwa walaupun secara teknis berada di wilayah dengan jaringan internet yang baik, sistem SPMB online masih mengalami hambatan teknis, terutama pada proses awal pendaftaran.
“Harusnya sistem online itu memudahkan. Tapi karena mungkin baru diterapkan, jadinya malah membingungkan. Saya ikut jalur mutasi karena KTP saya Kota Bogor tapi domisili di Kabupaten,” jelasnya.
Meskipun berbagai kendala sudah dibantu oleh pihak sekolah maupun dinas, para orang tua berharap ke depan sistem ini bisa diperbaiki, terutama dari sisi keandalan server, kemudahan antarmuka, serta sosialisasi yang lebih masif dan terstruktur.
Dengan penerapan sistem SPMB yang lebih matang dan dukungan informasi yang cukup, diharapkan proses penerimaan siswa baru di Kabupaten Bogor dapat berjalan lebih adil, efisien, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
(Pandu)







