Cibinong, SuaraBotim.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor mencatat sebanyak 13 kasus penyakit leptospirosis atau dikenal dengan sebutan penyakit kencing tikus sejak tahun 2018 hingga Agustus 2025.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira ini biasanya muncul setelah banjir, terutama di wilayah dengan kondisi sanitasi yang buruk dan populasi tikus yang tinggi.
Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Bogor, dr. Yessi Desputri MKK, menjelaskan bahwa leptospirosis ditularkan melalui urine hewan yang terinfeksi, seperti tikus, dan dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka, kulit lecet, atau selaput lendir yang bersentuhan dengan air tercemar.
“Kasus leptospirosis di Kabupaten Bogor tidak terlalu banyak, tetapi tetap perlu diwaspadai. Dari tahun 2018 hingga 2025, tercatat 13 kasus, dengan empat di antaranya meninggal dunia,” jelas dr. Yessi.
Data kasus leptospirosis di Kabupaten Bogor yaitu pada tahun 2018 terdapat 2 kasus dan seluruhnya sembuh, sedangkan 2019 terdapat 3 kasus dan 1 meninggal, pada tahun 2020 terdapat 1 kasus dan sembuh, pada tahun 2021 terdapat 1 kasus dan sembuh, pada tahun 2022 terdapat 2 kasus dan sembuh, pada tahun 2023 terdapat 2kasus dan 2 meninggal, pada tahun 2024 terdapat 1 kasus dan sembuh lalu, pada tahun 2025 terdapat 1 kasus, sembuh.
Dr. Yessi menjelaskan, gejala awal leptospirosis sering tidak khas dan mirip penyakit lain, sehingga banyak pasien datang terlambat ke fasilitas kesehatan.
“Gejalanya seperti demam, sakit kepala, nyeri otot terutama di betis, batuk, sakit tenggorokan, hingga diare. Bila tidak segera ditangani, infeksi bisa menyerang ginjal, paru, dan hati yang menyebabkan kematian,” katanya.
Kasus leptospirosis di Kabupaten Bogor tersebar di beberapa wilayah, seperti Jonggol (2018), Klapanunggal (2019 dan 2023), Gunung Putri (2020 dan 2023), Ciomas (2021), Cibinong dan Parung (2022), Caringin (2024), serta Cigombong (2025).
Menurut dr. Yessi, penyakit ini banyak menyerang kelompok masyarakat dengan risiko tinggi seperti petani, pemulung, petugas kebersihan, dan pekerja yang sering kontak dengan air kotor.
“Kami mengimbau masyarakat yang bekerja di area berisiko agar selalu menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan, serta menjaga kebersihan diri,” tutupnya.
(Pandu)







