SuaraBotim.Com – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melanjutkan komitmennya dalam peningkatan edukasi publik dengan menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan Sekolah Lapang Gempa (SLG). Kegiatan ini dilaksanakan di Pamegarsari, Parung, Kabupaten Bogor, pada Senin (01/12/2025).
Program ganda ini diselenggarakan untuk membekali masyarakat perkotaan dan petani dengan pengetahuan mendalam mengenai informasi cuaca, fenomena iklim ekstrem, serta mitigasi kebencanaan.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rahmat Prasetya, memberikan contoh implementasi SLI di lapangan. Ia menyebut, pendampingan langsung kepada petani telah dilaksanakan, salah satunya di Subang.
“Di Subang, kami mendampingi petani dari awal tanam sampai panen. Dengan kontrol iklim dan cuaca, pertumbuhan tanaman bisa lebih optimal sehingga risiko gagal panen berkurang,” ungkap Rahmat.
Pendampingan tersebut mencakup monitoring tinggi tanaman hingga penyakit pada padi. Namun, ia mengakui implementasi skala penuh masih terkendala.
“Presentasenya sekitar 5-10 persen karena baru uji coba kecil. Kami belum bisa memperluas karena keterbatasan kemampuan di sana,” ungkapnya.
Rahmat menutup dengan menyebut program SLI dan SLG ini sudah konsisten berjalan secara nasional maupun di Jawa Barat sejak tahun 2012, membuktikan komitmen jangka panjang BMKG.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Dr. Nelly Florida Riama, menekankan bahwa kegiatan seperti SLI dan SLG adalah cara nyata BMKG untuk menjadikan masyarakat lebih cerdas dan adaptif terhadap alam.
“Intinya BMKG ingin masyarakat semakin cerdas. Kami memberikan pengetahuan agar masyarakat dapat melakukan aktivitas sesuai dengan informasi yang diberikan oleh BMKG,” jelas Nelly.
Ia menjabarkan, melalui SLI, petani dilatih untuk menentukan pola tanam dan mempersiapkan diri menghadapi musim berdasarkan informasi cuaca.
Nelly juga mengungkapkan dampak positif program ini sudah terlihat: “Contohnya, para petani dapat meningkatkan produktivitas padi karena menggunakan pengetahuan teknis dari BMKG dan menerapkannya langsung di lapangan,” katanya.
Mengingat sebagian wilayah saat ini tengah memasuki puncak musim hujan, Nelly mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana yang disebabkan oleh tingginya intensitas curah hujan.
Selain aspek iklim, Dr. Nelly menjelaskan bahwa Sekolah Lapang Gempa (SLG) membekali peserta dengan panduan respons yang tepat saat terjadi guncangan gempa bumi.
“SLG mengajarkan bagaimana menghadapi gempa agar masyarakat tidak salah evakuasi,” tegasnya.
Koordinator BMKG Provinsi Jawa Barat, Dr. Teguh Rahayu, menggarisbawahi kondisi geografis Jawa Barat sebagai daerah yang sangat rawan gempa, baik dari sumber sesar darat maupun sesar laut.
“Jawa Barat memang daerah rawan gempa, baik dari sumber selatan maupun dari darat. Gempa Cianjur, Sumedang, hingga Kertasari semuanya dipicu sesar darat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa SLG merupakan langkah mitigasi yang harus diperkuat.
“Yang bisa kita lakukan adalah mitigasi. Melalui SLG, kami harap masyarakat teredukasi agar tidak salah evakuasi. Misalnya, saat di pantai berpotensi tsunami, arah evakuasi berbeda dengan ketika berada di pegunungan,” jelas Teguh.
Penulis: Mohammad Retza Apit







