Citeureup, SuaraBotim.Com – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, menuai kritik. Meski bertujuan mulia meningkatkan gizi, keterbatasan kuota di lapangan justru memicu kecemburuan sosial di tengah masyarakat.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Desa Tajur, Ade Safrudin, dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Citeureup, Rabu (28/1/2026). Ade menyebut, dari sekian banyak wilayah, baru dua posyandu di desanya yang tersentuh program tersebut.
“Berdasarkan pendataan kami bersama ibu-ibu PKK, masih ada kekurangan sekitar 1.800 kuota untuk kategori lansia, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di posyandu yang belum ter-cover,” ujar Ade kepada media.
Menurut Ade, total terdapat sekitar 3.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Desa Tajur yang membutuhkan intervensi gizi. Namun, karena distribusi yang belum merata, pemerintah desa seringkali menjadi sasaran pertanyaan warga yang merasa dibedakan.
“Masyarakat terus bertanya kenapa yang sana dapat dan sini tidak. Kondisi ini menimbulkan kecemburuan sosial. Kami butuh solusi konkret agar program ini bisa dirasakan secara merata dan tepat sasaran,” tegasnya.
Mengingat luas wilayah dan besarnya jumlah penduduk, Ade menilai keberadaan satu dapur MBG saat ini sangat tidak memadai. Ia mengusulkan agar pemerintah menambah setidaknya satu titik layanan lagi di Desa Tajur.
“Idealnya harus ada dua dapur agar bisa mencakup seluruh warga yang membutuhkan. Selain itu, kami ingin potensi pertanian dan peternakan lokal dilibatkan sebagai pemasok bahan baku,” katanya.
Ade berharap pengelola program pusat tidak hanya fokus pada sisi kesehatan, tetapi juga menggandeng pemerintah desa untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan melalui pemanfaatan hasil bumi warga setempat.
(Retza)







