SUARABOTIM.COM – Malam takbiran 1447 Hijriah di Dusun V Kampung Kedep, Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, terasa berbeda.
Cahaya obor yang berpendar di sepanjang jalan kampung berpadu dengan lantunan takbir, menghadirkan suasana hangat penuh kebersamaan.
Anak-anak, remaja, hingga orang tua tumpah ruah mengikuti pawai obor. Dengan wajah sumringah, mereka berjalan beriringan menyusuri jalan kampung, membawa obor yang menyala, seakan menjadi simbol cahaya kemenangan setelah menjalani bulan suci Ramadan.
Tradisi pawai obor ini bukan hal baru bagi warga Kampung Kedep. Kegiatan tersebut telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan malam takbiran setiap tahunnya.
Kepala Dusun V, Raka menyebut, pawai obor bukan sekadar seremonial, melainkan ruang untuk menjaga nilai kebersamaan yang kian penting di tengah kehidupan modern.
“Setiap tahun kami selalu mengadakan pawai obor ini. Bukan hanya untuk memeriahkan malam takbiran, tapi juga untuk menjaga kebersamaan warga. Dari anak-anak sampai orang tua semua ikut, itu yang membuat suasananya terasa hangat,” ujarnya.
Menurutnya, antusiasme warga tidak pernah surut. Bahkan, persiapan dilakukan secara gotong royong, mulai dari pembuatan obor hingga pengaturan rute pawai.
“Yang paling penting bukan hanya acaranya, tapi proses kebersamaan sebelum kegiatan itu. Warga saling bantu, saling sapa, itu yang ingin terus kami jaga,” tambah Raka.
Di tengah cahaya obor yang menari, suara takbir terus menggema. Bagi sebagian warga, momen ini bukan hanya perayaan, tetapi juga pengingat akan makna spiritual dan sosial dari Hari Raya Idulfitri.
Sekretaris Desa Tlajung Udik, Abdul Harly, melihat tradisi ini sebagai kekuatan budaya yang mampu menyatukan masyarakat lintas generasi.
“Pawai obor ini memiliki nilai yang lebih dari sekadar tradisi. Ada nilai religius, kebersamaan, dan juga edukasi bagi generasi muda agar mereka tetap mengenal budaya lokalnya,” katanya.
Ia menilai, di tengah perkembangan zaman, tradisi seperti ini menjadi penting untuk dipertahankan agar tidak tergerus modernisasi.
“Anak-anak sekarang perlu dikenalkan dengan tradisi seperti ini, supaya mereka punya rasa memiliki terhadap lingkungan dan budayanya sendiri,” jelasnya.
Malam itu, pawai obor berjalan sederhana, tanpa kemewahan. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Dalam langkah-langkah kecil warga yang berjalan bersama, tersimpan semangat kebersamaan yang sulit tergantikan.
Ketika obor-obor mulai meredup dan takbir perlahan usai, satu hal yang tetap menyala adalah rasa persaudaraan. Tradisi pawai obor di Kampung Kedep bukan hanya tentang cahaya di malam hari, tetapi juga tentang menjaga nyala kebersamaan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
(Pandu)







