Thursday, May 14, 2026
Suara Botim | Bogor Timur
No Result
View All Result
  • Login
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Suara Bogor
  • Peristiwa
  • Wisata dan Kuliner
  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Suara Bogor
  • Peristiwa
  • Wisata dan Kuliner
  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Olahraga
No Result
View All Result
Suara Botim
No Result
View All Result
Home Suara Bogor

Yusfitriadi: MBG dan KDKMP Sarat Kepentingan Politik Menuju Pilpres 2029?

by Ray
May 11, 2026
in Suara Bogor
0
Yusfitriadi Pemerhati Kebijakan Publik

Yusfitriadi Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik (foto : dok Pandu Maulana)

Share on FacebookShare on Twitter

SUARABOTIM.COM _ Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang menjadi program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai berpotensi dijadikan instrumen politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Pengamat kebijakan publik sekaligus Founder Lembaga Studi Visi Nusantara Maju (LS Vinus), Yusfitriadi menilai, pelaksanaan program MBG dan KDKMP sejak awal tidak sepenuhnya berorientasi pada kepentingan masyarakat, melainkan sarat dengan agenda politik jangka panjang.

READ ALSO

Polres Bogor Rampungkan 13 Unit Rumah ASRI, Kapolres Tegaskan Program Rutilahu Berlanjut

Pemkab Bogor Tak Main-Main! ASN Terlibat Narkoba Bakal Disanksi Tegas

Menurut Yusfitriadi, pelaksanaan Program MBG di Indonesia berbeda jauh dengan sistem yang diterapkan di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, China, dan Jepang yang kerap dijadikan contoh oleh Prabowo.

“Pak Prabowo sering menyebut bahwa hampir semua negara memiliki program makan bergizi gratis. Saya pernah ke Amerika, China, dan Jepang, memang ada. Tapi pelaksanaannya berbeda,” ujar Yusfitriadi, Sabtu (9/5/26).

Yusfitriadi menjelaskan, terdapat tiga perbedaan mendasar antara pelaksanaan MBG di luar negeri dengan di Indonesia.

Pertama, kata Yusfitriadi, program makan bergizi di negara lain hanya diberikan kepada sekolah atau wilayah yang benar-benar membutuhkan dan melalui proses verifikasi ketat.

“Kalau memang tujuan utamanya memberikan nutrisi kepada anak-anak, maka harus dipetakan sekolah mana yang membutuhkan, kabupaten mana yang prioritas,” katanya.

Kedua, lanjutnya, pelaksanaannya tidak membentuk lembaga baru seperti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), melainkan memanfaatkan fasilitas kantin sekolah yang sudah ada dan dikembangkan menjadi dapur sekolah atau school kitchen.

Menurutnya, konsep school kitchen justru lebih efektif karena bahan pangan dapat disuplai langsung oleh masyarakat sekitar seperti wali murid yang berprofesi sebagai petani, peternak, atau pedagang ikan.

“Kalau kantin sekolah dijadikan dapur, dampaknya besar untuk ekonomi masyarakat sekitar. Selama ini juga tidak pernah ada kasus keracunan kantin sekolah,” ujarnya.

Ia juga menilai, pembentukan SPPG justru menambah beban anggaran negara karena membutuhkan pembangunan dapur baru, perekrutan pegawai, hingga pengadaan kendaraan operasional.

“Bikin SPPG berapa duit? Bikin dapur berapa duit? Beli mobil operasional lagi? Jadi tidak efisien,” ucapnya.

Ketiga, terus Yusfitriadi, di sejumlah negara pembiayaan program makan bergizi tidak sepenuhnya menggunakan anggaran negara, melainkan melibatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.

Ia mencontohkan perusahaan-perusahaan besar dapat langsung membiayai sekolah yang membutuhkan melalui pola kemitraan tanpa harus melalui birokrasi panjang

“Langsung perusahaan transfer ke kantin sekolah. Tidak ada celah korupsi di tengah,” katanya.

Namun, Yusfitriadi kembali menilai, jika pemerintah benar-benar serius meningkatkan gizi anak, maka pola pelaksanaannya bisa dilakukan lebih sederhana dan tepat sasaran.

Namun menurutnya, skema besar yang dibangun pemerintah justru menunjukkan adanya kepentingan politik di balik program tersebut.

“Kalau serius soal nutrisi, harusnya pola yang dipakai sederhana. Tapi ini justru membangun struktur besar. Saya melihatnya syarat kepentingan politik,” tegasnya.

Ia juga menyinggung wacana pegawai SPPG dijadikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang dinilai dapat menjadi bagian dari strategi politik jangka panjang.

Selain MBG, Yusfitriadi turut mengkritik program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Menurutnya, hingga lebih dari setahun pemerintahan berjalan, program tersebut dinilai belum memiliki bentuk dan konsep yang jelas.

Ia menyoroti sejumlah aturan dalam Peraturan Presiden (Perpres) terkait Kopdes Merah Putih, mulai dari standar bangunan, luas tanah, hingga pembangunan yang disebut melibatkan PT Agrinas.

“Dari awal pendiriannya saja sudah tidak sesuai dengan kaidah koperasi,” katanya.

Menurut Yusfitriadi, koperasi sejatinya harus lahir dari kebutuhan masyarakat dan dibangun dari bawah, bukan dipaksakan dari pemerintah pusat.

“Koperasi itu lahir dari rakyat. Saya punya koperasi, asetnya sudah Rp18 miliar dalam tujuh tahun karena dibangun dari bawah,” ujarnya.

Ia menilai model KDKMP justru bersifat top-down dan tidak melibatkan koperasi-koperasi lokal yang selama ini sudah berjalan baik di daerah.

“Di Kabupaten Bogor banyak koperasi bagus, tapi tidak dilibatkan,” katanya.

Lebih lanjut, Yusfitriadi juga menyoroti, keterlibatan aparat TNI dalam operasional Kopdes Merah Putih. Menurutnya kondisi tersebut justru membuat masyarakat segan dan takut menyampaikan penolakan.

“Yang beroperasi TNI, siapa masyarakat yang ga takut sama TNI. Padahal tanah di desa belum tentu semuanya milik pemerintah daerah,” ujarnya.

Selain itu, ia mempertanyakan sistem distribusi barang yang disebut berasal dari satu pihak tertentu sehingga berpotensi menimbulkan keuntungan besar bagi kelompok tertentu.

Ia juga memprediksi program Kopdes Merah Putih baru akan benar-benar dioperasikan secara masif mendekati momentum Pilpres 2029.

“Sangat mungkin nanti baru beroperasi menjelang Pilpres. Operasi dulu, lalu minta dipilih lagi,” katanya.

Bahkan, ia meragukan target operasional seluruh Kopdes pada Agustus mendatang karena masih banyak desa yang belum memiliki kesiapan lahan maupun infrastruktur.

“Mana mungkin Agustus rampung. Tidak semua desa punya tanah,” pungkasnya.

(Pandu)

Tags: KDKMPPemerhati PublikPolitikProgram MBGYusfitriadi

Related Posts

Polres Bogor Rampungkan 13 Unit Rumah ASRI, Kapolres Tegaskan Program Rutilahu Berlanjut
Suara Bogor

Polres Bogor Rampungkan 13 Unit Rumah ASRI, Kapolres Tegaskan Program Rutilahu Berlanjut

May 14, 2026
Pemkab Bogor Tak Main-Main! ASN Terlibat Narkoba Bakal Disanksi Tegas
Suara Bogor

Pemkab Bogor Tak Main-Main! ASN Terlibat Narkoba Bakal Disanksi Tegas

May 13, 2026
BKPSDM Proses ASN Terindikasi Narkotika, Surat Resmi Sudah Dikirim ke Dinas Terkait
Suara Bogor

BKPSDM Proses ASN Terindikasi Narkotika, Surat Resmi Sudah Dikirim ke Dinas Terkait

May 13, 2026
Bupati Bogor: Pemberantasan Narkoba Tanggung Jawab Bersama
Suara Bogor

Bupati Bogor: Pemberantasan Narkoba Tanggung Jawab Bersama

May 13, 2026
‎Kepala BGN Resmikan SPPG ke-14 di Dekat Rumah Prabowo ‎
Suara Bogor

‎Kepala BGN Resmikan SPPG ke-14 di Dekat Rumah Prabowo ‎

May 11, 2026
Aplikasi Sentuh tanahku
Suara Bogor

Layanan Pertanahan Era Digital

May 11, 2026
Next Post
Kadisdik Jabar, Purwanto bersama guru SMAN 2 Purwakarta Rizkita Nurul Baifin. (Foto: Disdik Jabar)

SE Mendikdasmen Terbit, Guru Honorer Jabar Tak Lagi Terhimpit

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Suara Botim | Bogor Timur

Suara Bogor yang inspiratif, inovatif dan keratif. Terpercaya Terlengkap Seputar Politik, Ekonomi, Travel, Teknologi, Otomotif dan Olahraga.

Follow us

Categories

  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Life & Style
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Suara Bogor
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Uncategorized
  • Wisata dan Kuliner

Recent Posts

  • Polres Bogor Rampungkan 13 Unit Rumah ASRI, Kapolres Tegaskan Program Rutilahu Berlanjut
  • Warga Kampung Kedep Swadaya Cor Jalan Rusak Pakai Limbah Beton Sisa Pabrik
  • Integrasi Sertipikat Elektronik dan Aplikasi Sentuh Tanahku Berikan Manfaat Lebih dalam Transaksi Pertanahan
  • Pick Up Tabrak Mio dan Vespa di Tanjakan Selarong Puncak Bogor
  • Redaksi
  • Karir
  • Info Iklan

© 2025 Suara Botim.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Suara Bogor
  • Peristiwa
  • Wisata dan Kuliner
  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Olahraga

© 2025 Suara Botim.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?