SuaraBotim.Com – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menegaskan bahwa kesuksesan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat bergantung pada kekuatan sistem pendataan. Hal ini bertujuan agar intervensi gizi tersebut benar-benar menyentuh kelompok masyarakat yang paling membutuhkan, sekaligus menjadi senjata ampuh menekan angka stunting.
Dedie mengungkapkan, fokus pendataan ini telah dikoordinasikan langsung dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dalam evaluasi program wilayah Kota Bogor baru-baru ini.
“Kami membangun sistem yang bukan hanya untuk memonitor pelaksanaan, tetapi untuk memastikan warga penerima manfaat betul-betul terdata dengan valid. Akurasi data adalah kunci,” ujar Dedie Rachim, Rabu (21/1/2026).
Berbeda dengan daerah lain yang mungkin hanya terpaku pada Data Pokok Pendidikan (Dapodik), Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memperluas kriteria penerima manfaat. Selain anak sekolah, program ini menyasar ibu hamil, ibu menyusui, serta balita di Posyandu.
“Kita kembangkan areanya. MBG harus menyentuh anak-anak yang terindikasi stunting. Database warga harus akurat, terutama untuk kategori Desil 1 sampai Desil 5, agar distribusi manfaat sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga yang membutuhkan bantuan,” jelasnya.
Hingga saat ini, progres infrastruktur pendukung MBG di Kota Bogor menunjukkan angka yang menggembirakan. Dari target 110 dapur, sebanyak 86 dapur sudah beroperasi secara aktif. Setiap dapur dirancang untuk melayani kebutuhan gizi sekitar 3.000 penerima manfaat.
“Dari total dapur yang sudah berjalan, sekitar 240.000 warga Kota Bogor telah menerima manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis ini. Kami akan terus kejar hingga target 110 dapur tercapai guna memastikan cakupan yang lebih luas dan merata,” pungkas Dedie.
Dengan sistem database yang terintegrasi, Pemkot Bogor optimis Program MBG tidak hanya sekadar pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi menjadi instrumen transformasi kesehatan masyarakat secara jangka panjang.
(Retza)







