Gunung Putri, SuaraBotim.Com – Pemerintah Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, menerima kunjungan rombongan dari Desa Selat, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, dalam rangka program orientasi lapangan dan peningkatan wawasan serta kapasitas Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Karang Taruna, Kamis (25/7/25).
Kepala Desa Gunung Putri, Daman Huri mengungkapkan, bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari studi tiru yang difokuskan pada inovasi desa, penguatan peran Karang Taruna, dan peningkatan kinerja BPD.
“Hari ini kita menerima kunjungan dari Desa Selat, terdiri dari kepala desa, perwakilan kecamatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Badung, serta Karang Taruna dengan total sekitar 40 orang,” katanya kepada SuaraBotim.Com.
Ia menyebutkan, Desa Gunung Putri telah menjadi salah satu desa rujukan studi tiru dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya dalam bidang inovasi teknologi dan pembangunan desa digital.
“Studi tiru dari Bali sudah ribuan orang yang datang ke sini. Mungkin yang sebelumnya belum sempat ikut, kini hadir. Fokus mereka pada inovasi desa, penguatan BPD, dan pemberdayaan Karang Taruna,” ujarnya.
Beberapa inovasi yang dipaparkan antara lain pembangunan tiang telekomunikasi di 14 RW, pemasangan 64 titik CCTV di 46 RT, pengembangan desa digital, uji coba smart pole yang dapat terhubung langsung ke ponsel kepala desa dan stakeholder, hingga pengelolaan bank sampah, program Desa Tanggap Bencana (Destana), BNN, dan Desa Bersinar.
“Semua inovasi ini saya sampaikan saat presentasi. Saya selalu katakan, jika lembaga desa tidak menghasilkan ekonomi baru, maka akan mati suri. Maka dari itu, semua program harus berdampak pada peningkatan PADes,” tegasnya.
Sementara itu, Perbekel Desa Selat, I Made Semawan menyampaikan, bahwa pihaknya terinspirasi setelah melihat kiprah Desa Gunung Putri melalui media sosial.
“Desa Gunung Putri luar biasa. Banyak hal yang bisa kami pelajari, terutama dalam pengembangan teknologi informasi dan pengolahan sampah. Di Bali, sampah jadi bencana karena mengganggu pariwisata, makanya kami fokus ke sana,” katanya.
Ia juga menyebutkan, selain pengolahan sampah, penguatan peran Karang Taruna menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk diterapkan di desanya.
“Karang Taruna kami memang sudah bekerja, tapi belum maksimal. Kami ajak mereka ke sini agar bisa belajar langsung. Harapannya mereka bisa menjadi garda terdepan dalam membangun desa,” tuturnya.
I Made juga menyoroti, tantangan yang dihadapi dalam mengaplikasikan inovasi tersebut di Bali, mulai dari karakter masyarakat hingga keterbatasan lahan.
“Potensi dan karakter masyarakat Bali beda dengan Jawa Barat. Di Bali, tanah sejengkal saja sangat mahal, dan semangat gotong royong kami masih perlu ditingkatkan. Selain itu, desa di Bali juga terbagi dua, desa adat dan desa dinas, yang membuat koordinasi kadang terhambat,” jelasnya.
Rombongan dari Bali ini berjumlah sekitar 40 orang, termasuk pendamping dari pemerintah kabupaten. Mereka telah tiba sejak Rabu dan akan kembali ke Bali pada Jumat.
“Kami ingin merubah mindset, bahwa perangkat desa adalah pelayan masyarakat, bukan sekadar pegawai. Perubahan pola pikir ini penting untuk membangun desa ke arah yang lebih baik,” pungkas I Made Semawan.
(Pandu)







