Gunung Putri, SuaraBotim.Com – Kepedulian terhadap korban bencana banjir di Sumatera Barat ditunjukkan oleh Desa Tangguh Bencana (Destana) Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
Pada Jumat (2/1/26) dini hari, Destana Tlajung Udik memberangkatkan 12 personel tim kemanusiaan beserta bantuan hasil donasi masyarakat senilai lebih dari Rp131 juta ke wilayah terdampak banjir di Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Keberangkatan tim Destana Tlajung Udik dilepas langsung oleh Kepala Desa Tlajung Udik di Aula Kantor Desa Tlajung Udik pada pukul 00.30 WIB.
Kepala Desa Tlajung Udik menyampaikan, keberangkatan tim tersebut merupakan amanah dari masyarakat dan para donatur di Desa Tlajung Udik.
“Alhamdulillah, ini adalah amanah dari masyarakat Desa Tlajung Udik dan perusahaan yang menitipkan bantuan kepada kami. Maka teman-teman Destana berangkat langsung ke lokasi kejadian,” ujar Kades Bontot kepada SuaraBotim.Com.
Ia menambahkan, penyaluran bantuan akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan tidak menutup kemungkinan diperluas ke wilayah terdampak lainnya.
“Nanti kita lihat kondisi daerah di sana seperti apa. Jika diperlukan, bisa dilanjutkan ke wilayah lain. Saya berharap bantuan ini benar-benar memberi manfaat bagi saudara-saudara kita di Sumatera,” katanya.
Yusuf Ibrahim juga menekankan, pentingnya menjaga etika, sopan santun, serta nama baik desa, kecamatan, dan Kabupaten Bogor selama bertugas di wilayah bencana.
“Jaga etika dan tata krama. Kita berada di daerah orang, beda wilayah beda budaya. Hargai kultur setempat. Insyaallah, jika itu kita jalankan, dampaknya akan kembali kepada kita sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Tlajung Udik Peduli yang juga Sekretaris Desa Tlajung Udik, Abdul Harly, mengatakan bahwa seluruh tim membawa amanah besar dari masyarakat.
“Kita berangkat membawa nama baik Desa Tlajung Udik. Jangan sampai mengecewakan masyarakat yang telah mempercayakan amanah ini kepada kita,” ucapnya.
Abdul Harly menjelaskan, penggalangan dana dilakukan secara gotong royong oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT, RW, kepala dusun, ketua lingkungan, hingga lembaga desa dan para pengusaha serta donatur.
“Alhamdulillah, hingga malam ini dana yang terkumpul mencapai Rp131 juta lebih. Tidak menutup kemungkinan masih akan bertambah. Target awal kami Rp150 juta, dan ini sudah menjadi apresiasi luar biasa karena terkumpul kurang dari 10 hari,” terangnya.
Ia menegaskan, bahwa bantuan akan dieksekusi langsung oleh tim di lapangan untuk memastikan tepat sasaran.
“Kami yang akan mengeksekusi langsung di lokasi. Kita lihat kebutuhan saudara-saudara kita di sana apa, lalu dibelanjakan sesuai kebutuhan,” tambahnya.
Terpisah, Ketua Destana Tlajung Udik, Chandra Kirana, menyampaikan bahwa tim akan menuju Kota Padang dengan jarak tempuh sekitar 1.338 kilometer dari Desa Tlajung Udik.
“Tujuan utama kita Padang, khususnya Desa Tunggul Hitam. Untuk Aceh bersifat kondisional,” kata pria yang kerap disapa Bagol.
Bagol menjelaskan, 12 personel yang diberangkatkan dibagi menjadi dua tim, yakni Tim Alfa dan Tim Bravo.
“Tim Alfa akan stay dan melakukan perbantuan di Padang selama 15 hingga 20 hari. Sedangkan Tim Bravo akan bersifat taktis (tektok) dengan masa tugas sekitar delapan hari,” jelasnya.
Namun, Bagol juga mengingatkan, kepada seluruh personel agar bekerja sama, tidak saling mengandalkan, dan tetap fokus pada misi kemanusiaan.
“Kita ke sana bukan untuk bersenang-senang, kita membantu saudara kita yang terkena musibah. Medan di sana tidak mudah, banjir masih setinggi pinggang orang dewasa di beberapa lokasi,” ungkapnya.
Menurut Bagol, kondisi di lapangan masih dinamis dengan data pengungsi yang berubah setiap hari. Oleh karena itu, seluruh pengelolaan dana dan pembelanjaan akan dicatat secara transparan agar tidak salah sasaran.
“Semua pembelanjaan harus tercatat. Kita akan back up posko utama, termasuk dapur umum, makanan cepat saji, dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” katanya.
Ia menambahkan, tim akan terus melakukan asesmen ulang di beberapa desa terdampak untuk menentukan wilayah yang memungkinkan dijangkau sesuai dengan kemampuan dan perlengkapan yang dibawa.
“Kami tidak akan memaksakan masuk ke wilayah yang tidak sanggup kami tangani. Semua pergerakan harus melalui koordinasi dengan posko utama setempat,” pungkasnya.
(Pandu)







