Gunung Putri, SuaraBotim.com – Ana (44), warga Gunung Putri, Kabupaten Bogor, orang tua dari salah satu siswa yang menjadi korban ambruknya gedung SMKN 1 Gunung Putri, masih belum bisa menahan haru saat menceritakan detik-detik kejadian yang menimpa anaknya pada Senin (3/11/25) sore.
Dengan suara bergetar, Ana mengaku anaknya mengalami luka-luka setelah tertimpa reruntuhan material baja ringan saat bangunan kelas tiba-tiba roboh akibat hujan deras.
“Anak saya kena jaring-jaring (baja ringan) di badannya, jadi baret-baret. Tas, dompet, sama kunci motornya masih ketinggalan di dalam kelas, belum bisa diambil. Motornya juga masih di parkiran,” ungkap Ana kepada SuaraBotim.Com, Selasa (4/11/25).
Ana mengatakan, saat kejadian, anaknya yang duduk di kelas XI tengah berteduh di ruang kelas karena hujan lebat. Namun, tiba-tiba atap gedung ambruk menimpa sejumlah siswa yang masih berada di dalam.
“Awalnya hujan deras, air sudah masuk ke kelas, tiba-tiba bangunan ambruk. Anak saya sempat bingung mau keluar, dikira bukan roboh, tapi ternyata langsung ketiban,” tuturnya.
Beruntung, sang anak tidak mengalami luka berat. Namun, perasaan Ana sebagai ibu tak bisa digambarkan saat melihat kondisi anaknya yang penuh luka.
“Kemarin saya syok banget, sampai nangis. Siapa sih orang tua yang nggak sedih lihat anaknya luka-luka begitu. Pas lihat kelasnya juga ya Allah, hancur begitu. Perasaan seorang ibu rasanya campur aduk,” katanya haru.
Ana menambahkan, anaknya sempat dirawat di UKS sekolah sebelum dibawa pulang karena menolak dibawa ke rumah sakit.
“Mungkin anak saya trauma. Dia masih syok, kalau bangun suka cerita kejadiannya. Sepatu aja hilang, dia pulang jalan kaki tanpa sepatu,” ujarnya.
Sebagai orang tua, Ana berharap pemerintah dan pihak sekolah dapat memberikan perhatian lebih terhadap keselamatan para siswa.
“Pengennya yang terbaik, ini kan untuk keselamatan banyak orang, ribuan siswa di sini. Katanya sekolah terbaik, ya tunjukkan, kasih yang terbaik untuk anak-anak,” tegasnya.
(Pandu)







