Cibinong, SuaraBotim.Com – Harga tomat di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Bogor mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya dirasakan oleh para pedagang di Pasar Cibinong, yang mengaku kesulitan mendapatkan pasokan dan mengalami penurunan omzet penjualan.
Salah satu pedagang bahan pokok di Pasar Cibinong, Pa Asep (48) mengungkapkan, bahwa harga tomat saat ini mencapai Rp30.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp20.000.
“Tomat sekarang mahal, biasanya Rp20 ribu sekarang Rp30 ribu. Udah tiga hari ini barangnya juga susah didapat. Pengiriman dari sananya terbatas, biasanya 1 ton sekarang cuma 5 kuintal,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com, Senin (23/6/25).
Selain tomat, harga bawang merah juga ikut naik menjadi Rp50.000 per kilogram dari sebelumnya Rp40.000. Sementara harga cabai mulai mengalami penurunan. Cabai merah keriting kini dijual seharga Rp40.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah turun dari Rp80.000 menjadi Rp50.000 per kilogram.
“Yang lagi naik itu tomat sama bawang merah. Kalau cabai sekarang sudah turun. Kemarin sempat Rp80 ribu, sekarang tinggal Rp50 ribu,” jelasnya.
Ia mengatakan, kelangkaan tomat dipicu oleh musim hujan yang membuat panen tidak maksimal, serta adanya kendala distribusi. Salah satunya akibat aturan pembatasan muatan kendaraan barang yang berdampak pada jumlah pasokan yang diterima pedagang.
“Katanya aturan dari pemerintah pusat, mobil nggak boleh bawa barang banyak-banyak. Jadi pasokan ke sini terbatas, daun bawang aja sempat naik jadi Rp40 ribu dari yang biasanya Rp15 ribu,” ungkapnya.
Namun demikian, Asep menyebut harga daun bawang kini telah kembali normal. Meski begitu, penurunan daya beli konsumen tetap terasa. Ia mengaku omzet dagangannya menurun sekitar 10 persen.
“Pembeli banyak yang ngeluh mahal. Hari ini juga sepi, biasanya ramai. Sekarang omzet turun sekitar 10 persen. Ya, alhamdulillah masih ada yang beli,” katanya.
Ia berharap, pemerintah daerah turun tangan dalam menstabilkan harga dan memastikan distribusi bahan pokok berjalan lancar.
“Mudah-mudahan harganya bisa normal lagi, kasihan juga pembeli dan pedagang,”pungkasnya.
Sementara, salahsatu penjual nasi goreng disekitar, Afka menyebut, bahwa saat ini dirinya menjual nasi goreng dagangannya tidak memakai tomat lantaran kelangkaan dan melonjaknya harga bahan pokok.
“Udah beberapa hari ga make tomat, soalnya langka. Sekalinya ada harganya lumayan mahal,” ucap dia.
(Pandu)







