SUARABOTIM.COM – Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, Beben Suhendar, meminta semua pihak menunggu hasil kajian ilmiah terkait kelayakan Kecamatan Sukamakmur sebagai ibu kota Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Kabupaten Bogor Timur.
Hal itu menyusul data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor yang mencatat 29 kejadian bencana alam di Kecamatan Sukamakmur sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Menanggapi kemungkinan pergeseran lokasi ibu kota Bogor Timur akibat potensi bencana, Beben menilai hal tersebut tidak perlu disimpulkan terlalu dini.
Beben menyebut, saat ini proses penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) oleh konsultan masih berlangsung sehingga hasilnya perlu ditunggu.
“Kita tidak bisa berandai-andai. Sekarang tunggu konsultan, Amdal sedang berproses. Kita tunggu saja hasilnya karena itu kajian ilmiah,” katanya kepada SuaraBotim.Com, Jumat (16/10/26).
Ia juga mengingatkan agar berbagai kemungkinan yang belum terbukti tidak mematahkan semangat masyarakat yang menginginkan pemekaran Bogor Timur.
“Jangan berandai-andai, jangan mematahkan semangat orang. Itu kan baru seandainya, kita juga belum tahu,” ujarnya.
Beben mengaku tetap optimistis terhadap rencana pembentukan daerah otonomi baru tersebut. Ia menilai penentuan kelayakan lokasi harus mengacu pada hasil kajian dan kondisi faktual di lapangan, bukan sekadar asumsi.
“Optimis pokoknya,” tutupnya
Sebelumnya, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (DPTR) Kabupaten Bogor juga menyatakan bahwa risiko bencana seperti longsor dan banjir dapat diantisipasi melalui perencanaan tata ruang yang matang, pembangunan infrastruktur mitigasi, serta kajian kondisi tanah.
Meski demikian, potensi bencana di Sukamakmur menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam proses perencanaan kawasan ibu kota Bogor Timur, sehingga keselamatan masyarakat dan keberlanjutan pembangunan tetap menjadi pertimbangan utama.
(Pandu Maulana)






