Citeureup, SuaraBotim.Com – Kepala Desa Citeureup, Gugun Wiguna, tak kuasa lagi membendung keluhan warganya terkait carut-marut infrastruktur di wilayahnya. Di hadapan para Anggota DPRD Kabupaten Bogor Dapil 1 saat agenda Reses, Rabu (11/2/2026), Gugun membeberkan deretan masalah yang hingga kini tak kunjung tuntas.
Masalah paling mencolok sekaligus ironis adalah banjir yang kerap merendam Kantor Desa Citeureup. Gugun menyebut, banjir terjadi akibat adanya ketimpangan pembangunan drainase antara desanya dengan Kelurahan Puspanegara yang menjadi tetangga langsung.
“Di desa kami, khususnya di sekitar kantor desa, masih sering kebanjiran. Ini dampak perbedaan pembangunan drainase. Di wilayah kelurahan sudah dibangun, di kami belum terealisasi,” ungkap Gugun dengan nada kecewa.
Tak hanya soal banjir kantor desa, Gugun juga menyentil proyek pembangunan drainase di Jalan Sabilillah yang seolah jalan di tempat sejak tahun 2024. Ironisnya, proyek yang belum rampung itu berlokasi tepat di depan kediamannya sendiri.
“Drainase di Jalan Sabilillah tertunda dari tahun 2024. Ini persis di depan rumah saya, dampaknya langsung dirasakan warga sekitar,” tuturnya.
Ia juga mendesak percepatan perbaikan Tembok Penahan Tanah (TPT) di Kampung Lebak Pasar dan Kampung Muhara guna mengantisipasi longsor, serta penanganan serius Kali Cibeber yang langganan meluap saat hujan deras.
Keresahan Gugun memuncak saat membahas pengelolaan sampah di Pasar Citeureup 2. Menurutnya, tumpukan sampah di sana sudah dalam kondisi darurat karena aromanya telah mencemari lingkungan kantor pemerintahan di sekitarnya.
“Kami minta pengelolaan sampah di Pasar Citeureup 2 segera dibereskan. Baunya sudah sangat mengganggu, bahkan sampai ke kantor Koramil dan Polsek Citeureup,” tegasnya.
Gugun berharap, dengan kehadiran para wakil rakyat melalui agenda reses ini, persoalan-persoalan mendasar di pusat Kecamatan Citeureup ini bisa segera menjadi skala prioritas pembangunan tahun 2026. Ia tidak ingin masyarakat Citeureup terus menjadi “korban” pembangunan yang tidak sinkron dan lamban.
(Retza)







