Gunung Putri, SuaraBotim.Com – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung–Cisadane menggelar Pertemuan Konsultasi Masyarakat (PKM) pertama untuk studi Land Acquisition and Resettlement Action Plan (LARAP) pembangunan kolam pengendali banjir Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi, Kamis (16/10/25).
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari Kecamatan Klapanunggal, Jatiasih, dan Gunung Putri.
Agenda utama pertemuan adalah membahas perencanaan awal pembangunan kolam retensi sebagai langkah mitigasi banjir di wilayah hilir kedua sungai tersebut.
Kepala Desa Tlajung Udik, Yusuf Ibrahim, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tahapan awal dari studi LARAP yang dilakukan KemenPUPR dan BBWS.
“Pertemuan ini dihadiri para pemilik lahan dan pihak terkait untuk membahas rencana pembangunan kolam retensi yang akan berada di wilayah kami. Tujuannya untuk mengurangi dampak banjir yang sering terjadi, khususnya di Kecamatan Gunung Putri dan sekitarnya,” ujar Kades Bontot kepada SuaraBotim.Com.
Menurutnya, banjir kerap melanda wilayah Bojong Kulur dan Tlajung Udik akibat luapan air dari Sungai Cileungsi. Oleh karena itu, keberadaan kolam retensi diharapkan mampu menahan sementara debit air saat hujan deras.
“Targetnya ada dua titik kolam di Desa Tlajung Udik, yakni di sekitar RW 11 dan RW 18,” katanya.
Selain proyek kolam retensi, ia juga menyinggung upaya revitalisasi Setu Tlajung Udik yang sedang berlangsung. Ia berharap langkah tersebut dapat memperkuat daya serap air alami dan menekan risiko banjir.
“Setu itu bisa jadi tampungan air alami. Kalau pendangkalan sudah dibersihkan dan setunya rapi, insyaallah banjir bisa dikendalikan,” katanya.
Sementara itu, Evi Gustiana, Kepala Bidang Kpisda BBWS Ciliwung–Cisadane, menjelaskan bahwa pertemuan kali ini bertujuan untuk mendata dan menginventarisasi lahan yang terdampak proyek.
“Ini baru tahap awal. Kami mengidentifikasi kepemilikan lahan calon lokasi kolam retensi, sebelum dilakukan survei dan pengukuran oleh konsultan,” jelasnya.
Evi menambahkan, dari total delapan kolam retensi yang direncanakan, tiga di antaranya akan mulai dilaksanakan terlebih dahulu.
“Luasannya bervariasi tergantung kondisi lapangan. Kolam retensi ini berfungsi sebagai ‘parkir sementara air’ untuk mengurangi potensi banjir,” ujarnya.
Selain pembangunan kolam retensi, BBWS juga akan melakukan normalisasi Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi guna mengembalikan kapasitas tampungan sungai yang mengalami pendangkalan.
“Sebelumnya sungai hanya mampu menampung banjir dua tahunan. Setelah normalisasi, daya tampungnya ditingkatkan untuk banjir 25 tahunan,” kata Evi.
Ia menegaskan bahwa setelah proses identifikasi dan penetapan lokasi selesai, tahap berikutnya adalah pembentukan satuan tugas (Satgas) untuk menghitung besaran ganti rugi bagi masyarakat yang terdampak.
“Targetnya, seluruh proses LARAP bisa selesai sesuai jadwal agar pembangunan kolam pengendali banjir dapat segera dimulai,” pungkasnya.
(Pandu)







