Cibinong, SuaraBotim.com – Kenaikan harga cabai dan ayam di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Bogor dalam beberapa pekan terakhir mendapat perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bogor.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, menyebut kenaikan harga tersebut salah satunya disebabkan oleh kelangkaan stok akibat meningkatnya kebutuhan.
Menurutnya, indikasi awal menunjukkan tingginya permintaan dipengaruhi oleh berkembangnya program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah.
“Naiknya harga biasanya dipicu kelangkaan. Indikasi awal yang kami lihat, kebutuhan meningkat karena banyak dapur MBG, sementara stok berkurang sehingga harga ikut naik. Tapi ini baru indikasi, masih perlu penelitian lapangan,” ujar Teuku Mulya kepada SuaraBotim.Com, Sabtu (27/9/25).
Untuk menjaga stabilitas harga, Teuku Mulya menegaskan perlunya intervensi pemerintah melalui operasi pasar. Namun, ia menjelaskan bahwa kewenangan operasi pasar berada di Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin).
“Kalau intervensi harga di pasar itu kewenangan Disdagin. Dari DKP, kita melalui Gerakan Pangan Murah (GPM). Itu salah satu variabel untuk mengontrol harga agar kebutuhan masyarakat tetap terjangkau,” jelasnya.
Teuku menambahkan, operasi pasar dapat membantu menurunkan harga dengan cara memasok barang lebih murah.
Misalnya, beras ditangani melalui Bulog, sementara komoditas pasar didorong melalui PD Pasar. Dengan begitu, pedagang yang menjual dengan harga terlalu tinggi akan menyesuaikan karena kalah bersaing.
Ia menekankan, bahwa kenaikan harga pangan sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.
“Keterjangkauan harga itu penting. Kalau barangnya ada tapi harganya tinggi, masyarakat tidak mampu beli. Berbeda dengan barang mewah seperti mobil, itu murni bisnis, pemerintah tidak bisa intervensi. Tapi pangan wajib diintervensi demi kebutuhan dasar masyarakat,” tegasnya.
Selain langkah jangka pendek berupa operasi pasar dan GPM, DKP Kabupaten Bogor juga menyiapkan strategi jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan.
Beberapa program yang direncanakan antara lain seperti kerja sama dengan stakeholder dan pemasok pangan untuk menjamin ketersediaan bahan pokok.
Lalu, Pengembangan urban farming agar masyarakat bisa menanam cabai dan sayuran sendiri, Pemanfaatan lahan luas di Kabupaten Bogor untuk produksi pertanian dan peternakan serta kerja sama dengan dapur MBG dan food station untuk menyeimbangkan pasokan pangan.
“Jangka panjangnya, kita dorong masyarakat menanam sendiri melalui urban farming. Kabupaten Bogor punya lahan luas yang bisa dimanfaatkan untuk cabai dan komoditas lain. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya bergantung pada pasokan pasar,” katanya.
Meski demikian, Teuku mengakui solusi jangka panjang memerlukan waktu karena harus melalui proses tanam dan panen. Untuk itu, langkah jangka pendek berupa operasi pasar tetap dijalankan guna menjaga keseimbangan ketersediaan pangan harian.
“Kalau untuk kebutuhan harian, tetap harus ada intervensi jangka pendek. Operasi pasar dan GPM menjadi langkah utama sambil solusi jangka panjang terus kita jalankan,” pungkasnya.
(Pandu)







