SUARABOTIM.COM _ Kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Bogor setiap hari Jumat selama kurang lebih enam pekan terakhir diklaim mampu menghasilkan efisiensi hingga 46 persen.
Efisiensi tersebut berasal dari penghematan bahan bakar minyak (BBM) hingga penggunaan energi listrik di lingkungan pemerintahan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika mengatakan, kebijakan yang diinisiasi Bupati Bogor yang awalnya bertujuan menekan penggunaan BBM. Namun, dalam pelaksanaannya berkembang menjadi efisiensi energi secara menyeluruh.
“Jadi gini, kebijakan Pak Bupati itu kaitannya dengan efisiensi. Awalnya memang efisiensi BBM, tapi kemudian berkembang menjadi efisiensi energi. Jadi bukan sekadar BBM saja,” kata Ajat kepada SuaraBotim.Com, Senin (11/5/26).
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak diterapkan kepada seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), terutama dinas yang bersifat esensial dan langsung bersentuhan dengan masyarakat seperti pemadam kebakaran, BPBD, rumah sakit, hingga puskesmas.
“Kalau pelayanan esensial seperti pemadam kebakaran, BPBD, rumah sakit, puskesmas, itu tetap harus hadir langsung melayani masyarakat. Paling yang diperkenankan hanya pegawai administrasinya, walaupun praktiknya sebagian besar tetap masuk,” jelasnya.
Ajat menuturkan, Pemkab Bogor menerapkan sejumlah strategi efisiensi. Salah satunya ialah penerapan WFH setiap hari Jumat karena tingkat pelayanan publik dinilai cenderung menurun pada hari tersebut.
“Hari Jumat itu memang tingkat pelayanan biasanya melandai. Masyarakat cenderung tidak banyak mengajukan pelayanan seperti perizinan dan lainnya,” ujarnya.
Selain WFH, Pemkab Bogor juga menerapkan kebijakan pengurangan penggunaan kendaraan roda empat setiap hari Rabu guna menekan konsumsi BBM.
Tak hanya itu, pada hari Senin, Selasa, dan Kamis, ASN juga didorong menerapkan sistem carpooling atau berbagi kendaraan saat berangkat kerja.
“Carpooling itu sederhananya nebeng atau numpang. Kalau biasanya empat mobil diisi satu orang, sekarang ASN sudah terbiasa berangkat bersama dalam satu mobil,” katanya.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan, kata Ajat, kebijakan tersebut menunjukkan dampak signifikan terhadap pengeluaran listrik maupun konsumsi BBM ASN.
Pemkab Bogor juga melakukan survei terhadap sekitar 1.650 ASN terkait dampak kebijakan tersebut terhadap penggunaan BBM sehari-hari.
“Kita evaluasi pembayaran listrik bulan lalu dan bulan sekarang, ternyata ada penurunan. Kemudian kita survei sekitar 1.650 orang terkait pengurangan BBM dan semuanya merasakan efeknya,” ungkap Ajat.
Hasil evaluasi gabungan dari penghematan listrik, BBM, kebijakan WFH, pengurangan kendaraan roda empat, hingga carpooling itu akhirnya menghasilkan efisiensi sebesar 46 persen.
“Dari seluruh evaluasi itu dijumlahkan, ada efisiensi 46 persen. Saya kira itu cukup efektif,” tuturnya.
Meski menerapkan WFH, Ajat memastikan, kualitas pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama. ASN juga diminta tetap sigap apabila sewaktu-waktu dibutuhkan hadir langsung oleh pimpinan daerah.
“Walaupun berlaku WFH, kalau kondisi menuntut kehadiran maka kita harus siap hadir. Baik hari kerja, Sabtu maupun Minggu, demi kepentingan masyarakat,” tegasnya.
(Pandu)







