SUARABOTIM.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor memperpanjang status tanggap darurat kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bogor akibat musim kemarau yang masih berlangsung.
Perpanjangan Surat Keputusan (SK) tanggap darurat kekeringan tersebut berlaku mulai 2 hingga 15 September 2026.
Kebijakan ini dilakukan karena kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor masih membutuhkan penanganan dan distribusi bantuan air bersih.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto mengatakan, perpanjangan status tanggap darurat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca serta informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Kekeringan kita hari ini lakukan perpanjangan kembali SK tanggap darurat untuk kekeringan,” kata Rudy kepada SuaraBotim.Com, Selasa (1/9/26).
Menurutnya, kata Rudy, berdasarkan rilis BMKG, puncak musim kemarau di wilayah Kabupaten Bogor diperkirakan belum mencapai titik tertingginya. Karena itu, Pemkab Bogor masih terus melakukan berbagai langkah untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.
“Kita juga melihat rilis dari BMKG yang melihat tren puncak musim kering belum sampai titik puncak. Kita Pemkab Bogor setiap hari masih melakukan distribusi air ke 40 kecamatan yang ada,” ucapnya.
Selain mendistribusikan air bersih, Pemkab Bogor juga telah menyiapkan sejumlah tandon air atau toren di beberapa titik yang membutuhkan pasokan air.
Pemkab Bogor juga membangun sejumlah sumur di titik-titik yang memiliki sumber air. Air dari sumber tersebut nantinya dapat dimanfaatkan dan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.
“Kita juga sudah menyiapkan toren-toren di beberapa titik lokasi. Lalu kita juga sudah membangun beberapa sumur di titik-titik sumber air yang bisa kita distribusikan untuk kepentingan masyarakat,” jelas Rudy.
Di tengah kondisi kemarau yang menyebabkan intensitas hujan sangat minim, Rudy juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
“Kita mengimbau kepada seluruh masyarakat, intensitas hujan sangat minim di Kabupaten Bogor. Banyak semak-semak yang kering. Jangan buang puntung sembarangan dan jangan membakar sampah sembarangan,” tegasnya.
Politisi Gerindra itu juga meminta, masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat dilakukan penanganan sedini mungkin.
“Kalau ada beberapa titik api, kita padamkan segera untuk kita jaga lingkungan bersama-sama. Jaga Bogor bersama-sama untuk bangsa Indonesia,” katanya.
Terkait wilayah yang mengalami kondisi kekeringan paling parah, Rudy mengatakan data tersebut akan terus diperbarui oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi kekeringan di masing-masing wilayah sekaligus menentukan prioritas distribusi air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selain berdampak terhadap ketersediaan air bersih, musim kemarau yang berlangsung selama beberapa bulan juga mulai memengaruhi sektor pertanian di Kabupaten Bogor.
Akibatnya, Rudy mengungkapkan, sejumlah lahan pertanian terpaksa tidak ditanami karena keterbatasan air.
“Kebetulan musim kering sudah terjadi beberapa bulan ke belakang. Jadi beberapa lahan pertanian memang tidak ditanami tanaman pertanian yang biasa dijalankan, salah satunya padi,” ungkapnya.
Ia mencontohkan kondisi pertanian di wilayah Bogor Timur yang memiliki sistem pertanian padi gunung atau sawah tadah hujan. Kondisi tersebut membuat aktivitas pertanian sangat bergantung pada curah hujan.
“Di Bogor Timur ada namanya padi gunung atau sawah tidak ada hujan. Karena tidak ada hujan, para petani juga tidak bisa melakukan pertanian,” pungkas Rudy.
(Pandu)






