KOTA BOGOR, SUARABOTIM.COM – Kondisi Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, menjelang arus mudik Lebaran 2026 tampak lesu. Jika biasanya tiket bus sudah ludes terjual di pertengahan Ramadan, tahun ini para pengusaha angkutan darat justru menjerit karena keterisian kursi (okupansi) yang belum menyentuh angka 10 persen.
Penurunan drastis ini diduga kuat akibat masifnya program mudik gratis serta kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Kepala Kelompok Kerja Unit (KKU) AKAP/AKDP Terminal Baranangsiang, Budiyana, mengungkapkan bahwa tren penurunan ini adalah yang paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Arus mudik tahun ini sangat turun drastis. Biasanya tengah bulan Ramadan tiket untuk H-2 dan H-1 sudah habis, sekarang 10 persen saja belum tercapai. Sangat sepi,” ujar Budiyana saat ditemui di lokasi, Rabu (25/2/2026).
Budiyana menyoroti kebijakan mudik gratis yang meskipun niatnya baik, namun berdampak fatal bagi keberlangsungan usaha angkutan umum komersial. Ia menilai program tersebut justru “membunuh” pendapatan tahunan para sopir dan kru bus reguler.
“Program mudik gratis menurut saya tidak tepat sasaran karena merugikan pengusaha dan pekerja angkutan umum yang menggantungkan hidup di terminal. Kami berharap pemerintah bisa mengembalikan kondisi ini agar transportasi umum kembali menjadi dambaan masyarakat,” jelasnya.
Saking sepinya peminat, sejumlah PO (Perusahaan Otobus) di Terminal Baranangsiang mulai mengambil langkah nekat dengan menurunkan harga tiket mudik, hal yang sangat jarang terjadi dalam sejarah transportasi Lebaran.
“Banyak pengusaha terpaksa menurunkan harga tiket dibanding tahun lalu demi menarik minat penumpang yang tersisa. Tapi tetap saja belum terlihat ada lonjakan,” tambahnya.
Hingga saat ini, pihak pengelola terminal dan pengusaha angkutan mengaku belum mendapatkan respons atau solusi dari pemerintah daerah terkait kelesuan sektor transportasi darat ini. Mereka berharap ada kebijakan yang lebih seimbang agar program bantuan pemerintah tidak justru mematikan sektor usaha rakyat.
(Retza)







