Cibinong, SuaraBotim.Com – Kenaikan harga eceran tertinggi (HET) beras medium membuat sejumlah pedagang di Kabupaten Bogor merasakan dampak signifikan.
Salah satunya dialami Anton (35) pedagang beras di Pasar Cibinong, yang mengaku omzet penjualannya turun hingga 30 persen dalam sebulan terakhir.
Menurut Anton, harga beras premium saat ini rata-rata sudah menyentuh Rp13.000 per kilogram* jauh lebih tinggi dibanding harga normal sebelumnya di kisaran Rp11.100 hingga Rp12.300 per kilogram.
“Emang lagi naik harga, paling murah aja Rp13 ribu per kilo. Sekarang sudah nggak bisa lagi nyentuh harga Rp12 ribuan, apalagi Rp11 ribu. Jadi otomatis pembeli berkurang,” jelas Anton kepada SuaraBotim.Com, Kamis (28/8/25).
Anton mengatakan, penurunan jumlah pembeli bukan hanya karena harga beras yang naik, tetapi juga kondisi ekonomi masyarakat yang sedang menurun.
“Ekonomi lagi turun, ditambah beras naik, jadi pembeli makin sepi. Apalagi banyak pelanggan kami pedagang makanan, seperti nasi goreng atau pecel lele. Kalau mereka sepi, otomatis saya juga ikut turun omzetnya,” ungkapnya.
Sejak harga naik sebulan terakhir, omzet Anton turun hingga 30 persen. Ia menyebut kondisi pasar sangat sepi dibanding biasanya.
Anton menilai salah satu penyebab kenaikan harga beras adalah faktor cuaca ekstrem yang membuat hasil panen terganggu.
“Naiknya karena cuaca. Hujan terus-terusan bikin sawah banjir. Jadi pasokan dari Jawa atau Cipinang berkurang, harganya ikut naik,” ujarnya.
Anton berharap pemerintah bisa segera mengambil langkah agar harga beras kembali stabil. Menurutnya, jika harga terus tinggi, banyak konsumen yang akan beralih atau mengurangi pembelian.
“Harapan ke pemerintah ya semoga bisa diturunin lagi harga berasnya. Kalau terus mahal, takutnya pelanggan kabur. Saya aja sekarang ngambil untung tipis biar nggak ditinggal pembeli,” pungkasnya.
(Pandu)







