SUARABOTIM.COM – Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Sekolah Rakyat melalui pelatihan bagi tenaga pengamanan, manajemen kasus, dan pengelola Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf di Harris Hotel & Convention Cibinong City Mall, Rabu (4/11/2026). Pelatihan ini diikuti sekitar 800 peserta dari tiga unsur tenaga kerja Sekolah Rakyat.
Saifullah Yusuf mengatakan, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi SDM agar seluruh unsur di lingkungan Sekolah Rakyat dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai bidang masing-masing.
Ia menyebut, Sekolah Rakyat memiliki tiga fungsi utama, yakni pendidikan, rehabilitasi, dan pemberdayaan. Karena itu, dibutuhkan tenaga profesional yang mampu mendukung penyelenggaraan program tersebut.
“Di Sekolah Rakyat ada wali asrama, wali asuh, satuan pengamanan, guru, kepala sekolah, manajemen kasus, serta pengelola data. Semuanya harus bisa bekerja dengan disiplin dan berpegang teguh pada kode etik yang ada,” ujar pria yang kerap disapa Gus Ipul.
Gus Ipul juga menjelaskan, para siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga kurang mampu yang masuk dalam kelompok desil satu dan dua, dengan latar belakang serta kondisi pendidikan yang beragam.
Bahkan, kata dia, proses penerimaan siswa tidak menggunakan tes akademik. Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan di Sekolah Rakyat dituntut memberikan pendampingan dengan penuh empati.
“Sehingga memerlukan pendampingan dengan penuh empati dari seluruh pemangku kepentingan Sekolah Rakyat,” katanya.
Gus Ipil menyebutkan, sekitar 800 peserta mengikuti pembekalan yang terbagi dalam tiga kelompok, yakni tenaga pengamanan, petugas manajemen kasus atau case manager, serta operator Dapodik.
Nantinya, pelaksanaan pelatihan dibagi berdasarkan bidang kompetensi masing-masing untuk memudahkan penyampaian materi dan teknis pembekalan.
Lebih lanjut, Gus Ipul juga mengungkapkan bahwa salah satu tantangan dalam pengelolaan Sekolah Rakyat adalah pemutakhiran data siswa yang memiliki latar belakang pendidikan tidak seragam.
Ia mencontohkan, terdapat siswa berusia 17 tahun yang masih duduk di kelas tiga SMP karena sempat mengalami putus sekolah selama tiga tahun.
“Kondisi tersebut membuat Sekolah Rakyat menerapkan sistem multi-entry dan multi-exit, sehingga siswa dapat menyesuaikan proses pendidikannya berdasarkan kondisi masing-masing,” ungkapnya.
Selain itu, kata Gus Ipul, terdapat masa penyesuaian atau matrikulasi bagi siswa yang baru masuk. Sebab, mereka tidak melalui seleksi akademik sebelum diterima di Sekolah Rakyat.
Menurut dia, dinamika penyesuaian biasanya terjadi selama satu hingga enam bulan pertama, terlebih Sekolah Rakyat menerapkan sistem pendidikan berasrama.
“Ini masih perlu penyesuaian dan adaptasi. Apalagi pendidikan berasrama, sehingga perlu melatih siswa-siswi menyesuaikan dengan jadwal yang sudah rinci. Tentu harus dilakukan dengan empati,” jelasnya.
“Intinya, SDM-nya terus diperkuat, tata kelolanya terus diperbaiki, mudah-mudahan ini sesuai dengan harapan Bapak Presiden,” tutupnya.
(Penulis: Pandu Maulana)






