Cisarua, SuaraBotim.Com – Bupati Bogor, Rudy Susmanto, mengajak seluruh elemen masyarakat serta pemerintah daerah yang wilayahnya dilintasi Sungai Ciliwung untuk bersama-sama menjaga dan merawat kawasan hulu sungai tersebut.
Menurutnya, hulu Sungai Ciliwung memiliki peran vital bagi banyak daerah, sehingga tanggung jawab pelestariannya tidak bisa dibebankan hanya kepada satu wilayah.
Ajakan tersebut disampaikan Rudy Susmanto saat memimpin kegiatan penanaman pohon di kawasan hulu Sungai Ciliwung, Cisarua, Kabupaten Bogor, Rabu (5/2/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program penanaman pohon serentak serta pembangunan hutan kota di 40 kecamatan se-Kabupaten Bogor.
“Hulu Sungai Ciliwung ini milik kita semua. Memang berada di Kabupaten Bogor, tetapi yang harus merawat dan memeliharanya adalah seluruh masyarakat yang cinta alam, cinta lingkungan, dan cinta air. Ini kita jaga bersama-sama,” tegas Rudy.
Rudy menjelaskan, Sungai Ciliwung berhulu di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, dan mengalir melintasi sejumlah wilayah lain hingga ke Bekasi dan DKI Jakarta.
Oleh karena itu, lanjut Rudy, kondisi kawasan hulu sangat menentukan keberlanjutan sumber daya air, fungsi daerah resapan, serta tingkat risiko bencana di wilayah hilir.
Ia juga mengajak pemerintah daerah yang terdampak aliran Sungai Ciliwung untuk ikut berkontribusi dalam menjaga kelestarian hulu sungai.
Menurutnya, upaya tersebut merupakan bentuk “investasi air” demi keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat di masa depan.
“Ayo kita berinvestasi, investasi air di Kabupaten Bogor. Jika sumber mata air dan wilayah resapan terjaga dengan baik, kita dapat meminimalkan dampak negatif seperti banjir dan kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Nur Ari Wardoyo, mengapresiasi langkah Bupati Bogor beserta jajarannya melalui inisiatif program Bogor Menanam untuk Indonesia.
Ia menilai penanaman pohon dan pemulihan tutupan lahan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung merupakan intervensi nyata berbasis ilmiah untuk menurunkan risiko banjir dan longsor.
“Pemulihan ekosistem di wilayah hulu DAS Ciliwung adalah langkah strategis untuk menekan risiko banjir dan longsor di wilayah hilir, termasuk Jakarta. Dampaknya memang tidak langsung terasa, tetapi ini merupakan langkah penting yang harus dimulai sekarang,” ungkap Nur.
Nur menegaskan bahwa pemulihan DAS Ciliwung tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga komunitas lokal.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya menanam pohon, tetapi turut merawat dan menjaga tutupan hutan yang telah ada.
“Upaya ini adalah kerja kolektif. Jika kita rawat bersama, dampaknya akan kembali kepada kita semua dalam bentuk lingkungan yang lebih aman, lestari, dan berkelanjutan,” tutupnya.
(Pandu)







