Nanggung, SuaraBotim.Com – Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, menyimpan sejarah panjang bangsa sekaligus dinamika pembangunan yang berliku.
Tokoh masyarakat setempat, Hendrik (53) menuturkan bagaimana Malasari pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bogor, tertinggal puluhan tahun, hingga kini mulai bangkit berkat keseriusan Bupati Bogor Rudy Susmanto membangun akses jalan dan menghidupkan potensi wisata.
“Bupati pertama, Bapak Ipik Gandamana, pernah ber-pemerintah di Desa Malasari sekitar satu tahun, pada tahun 1948. Lalu di tahun 1980-an ada program Abri Masuk Desa (AMD) yang membangun jalan dan jembatan sepanjang 30 kilometer. Ratusan anggota ABRI bermukim di sini, bekerja bersama masyarakat dengan padat karya,” kenang Hendrik.
Meski pernah menjadi pusat pemerintahan, Malasari justru lama tertinggal. Hendrik menyebut, pembangunan berhenti setelah AMD, dan baru kembali tersentuh pada 2010 ketika Bupati Rachmat Yasin membangun sebagian akses jalan.
“Dengan berjalannya republik Indonesia, Malasari itu tertinggal oleh pemerintah daerah. Tahun 2010 ada Bupati Rachmat Yasin yang membangun jalan walaupun cuma sepotong. Nah, Alhamdulillah sekarang dengan adanya eks pendopo bupati pertama, Bapak Rudy Susmanto serius membangun potensi terutama jalan,” ujar Hendrik.
Bagi masyarakat, pembangunan yang dilakukan Rudy disebut paling nyata dibandingkan bupati sebelumnya.
“Kalau bupati lainnya nanti-nanti melulu, buktinya nggak ada. Tapi sekarang begitu ngomong langsung ada aksi,” tambahnya.
Hendrik menilai, meski Indonesia sudah 80 tahun merdeka, Malasari baru benar-benar merasakan kemerdekaan tahun ini, ketika akses jalan menuju perbatasan Sukabumi mulai dibuka.
“Kalau menurut kami, Desa Malasari ini baru disebut merdeka sekarang, dengan adanya akses jalan. Padahal potensi Malasari ini luar biasa, orang luar menyebutnya ‘surga tersembunyi’, ada kebun teh dan alamnya yang masih asri,” jelasnya.
Selain sejarah, Malasari juga menyimpan peninggalan penting, yaitu eks Pendopo Bupati Bogor pertama yang kini disorot pemerintah sebagai aset budaya.
Hendrik juga menceritakan transformasi ekonomi masyarakat. Jika dulu banyak yang bekerja sebagai gurandil (penambang emas ilegal) atau menebang kayu, kini 80 persen warga beralih ke pertanian dan ekowisata.
“Dulu banyak penebangan kayu dan gurandil, tapi sekarang masyarakat balik ke pertanian cabai, tomat, padi, dan ternak. Ada juga hasil hutan bukan kayu, seperti gula aren, madu, dan kopi. Masyarakat sekarang sudah punya cara lain selain merusak hutan, hidupnya lebih aman dan ekonomi membaik,” terang Hendrik.
Ia sendiri mengelola objek wisata Curug Kembar bersama kelompok masyarakat. Ada sekitar 26 orang yang kini bergantung pada ekowisata.
“Kami tidak menerima investor besar. Wisata ini dikelola masyarakat, supaya hasilnya kembali ke warga. Kalau dulu masyarakat cuma jadi penonton, paling banter tukang parkir, sekarang mereka bisa mandiri,” katanya.
Sejak 2014, Malasari ditetapkan sebagai desa wisata dan rutin mewakili Kabupaten Bogor maupun Jawa Barat di berbagai ajang ekowisata. Bahkan warga lokal pernah dinobatkan sebagai Duta Lingkungan Ekowisata Jawa Barat.
Kesadaran lingkungan masyarakat juga meningkat.
“Sebelum dinobatkan jadi desa wisata, banyak penebangan pohon dan sampah sembarangan. Sekarang walau belum 100 persen, ada perubahan besar,” tutur Hendrik.
Hendrik optimistis pembangunan jalan dan event tahunan yang digagas Pemkab Bogor akan mendongkrak ekonomi warga. Tahun 2024 lalu, Malasari bahkan sudah masuk dalam agenda resmi Pemkab melalui penjemputan Bendera Pusaka di eks Pendopo Bupati Bogor.
“Kalau jalan sudah beres, saya yakin puluhan ribu orang akan berkunjung ke Malasari. Yang penting masyarakat siap menyambut wisatawan, tapi tetap menjaga ekosistem. Program tahunan ini mimpi kami, dan kami yakin ekonomi akan meningkat,” tegasnya.
Hendrik menutup dengan harapan besar agar Pemerintah membangun Desa Malasari bukan hanya sekedar seremonial saja.
“Saya dari dulu sampai sekarang berharap, bukan hanya seremoni event-event, tapi pembangunan harus berlanjut untuk masyarakat. Menuju hutan lestari, rakyat sejahtera,” pungkasnya.
(Pandu)







