Friday, October 16, 2026
Suara Botim | Bogor Timur
No Result
View All Result
  • Login
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Suara Bogor
  • Peristiwa
  • Wisata dan Kuliner
  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Suara Bogor
  • Peristiwa
  • Wisata dan Kuliner
  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Olahraga
No Result
View All Result
Suara Botim
No Result
View All Result
Home Suara Bogor

Dari Penjajahan Belanda hingga Desa Wisata: Malasari Akhirnya Merdeka Lewat Pembangunan

by Arsyit Syarifudin
September 16, 2025
in Suara Bogor
0
Dari Penjajahan Belanda hingga Desa Wisata: Malasari Akhirnya Merdeka Lewat Pembangunan
Share on FacebookShare on Twitter

Nanggung, SuaraBotim.Com – Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, menyimpan sejarah panjang bangsa sekaligus dinamika pembangunan yang berliku.

Tokoh masyarakat setempat, Hendrik (53) menuturkan bagaimana Malasari pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bogor, tertinggal puluhan tahun, hingga kini mulai bangkit berkat keseriusan Bupati Bogor Rudy Susmanto membangun akses jalan dan menghidupkan potensi wisata.

READ ALSO

Soal Isu Ibu Kota Bogor Timur Digeser dari Sukamakmur, Beben: Jangan Patahkan Semangat Orang

Jaro Ade Tinjau KDKMP Pakansari, Dorong Pembangunan Menyeluruh di 416 Desa dan 19 Kelurahan

“Bupati pertama, Bapak Ipik Gandamana, pernah ber-pemerintah di Desa Malasari sekitar satu tahun, pada tahun 1948. Lalu di tahun 1980-an ada program Abri Masuk Desa (AMD) yang membangun jalan dan jembatan sepanjang 30 kilometer. Ratusan anggota ABRI bermukim di sini, bekerja bersama masyarakat dengan padat karya,” kenang Hendrik.

Meski pernah menjadi pusat pemerintahan, Malasari justru lama tertinggal. Hendrik menyebut, pembangunan berhenti setelah AMD, dan baru kembali tersentuh pada 2010 ketika Bupati Rachmat Yasin membangun sebagian akses jalan.

“Dengan berjalannya republik Indonesia, Malasari itu tertinggal oleh pemerintah daerah. Tahun 2010 ada Bupati Rachmat Yasin yang membangun jalan walaupun cuma sepotong. Nah, Alhamdulillah sekarang dengan adanya eks pendopo bupati pertama, Bapak Rudy Susmanto serius membangun potensi terutama jalan,” ujar Hendrik.

Bagi masyarakat, pembangunan yang dilakukan Rudy disebut paling nyata dibandingkan bupati sebelumnya.

“Kalau bupati lainnya nanti-nanti melulu, buktinya nggak ada. Tapi sekarang begitu ngomong langsung ada aksi,” tambahnya.

Hendrik menilai, meski Indonesia sudah 80 tahun merdeka, Malasari baru benar-benar merasakan kemerdekaan tahun ini, ketika akses jalan menuju perbatasan Sukabumi mulai dibuka.

“Kalau menurut kami, Desa Malasari ini baru disebut merdeka sekarang, dengan adanya akses jalan. Padahal potensi Malasari ini luar biasa, orang luar menyebutnya ‘surga tersembunyi’, ada kebun teh dan alamnya yang masih asri,” jelasnya.

Selain sejarah, Malasari juga menyimpan peninggalan penting, yaitu eks Pendopo Bupati Bogor pertama yang kini disorot pemerintah sebagai aset budaya.

Hendrik juga menceritakan transformasi ekonomi masyarakat. Jika dulu banyak yang bekerja sebagai gurandil (penambang emas ilegal) atau menebang kayu, kini 80 persen warga beralih ke pertanian dan ekowisata.

“Dulu banyak penebangan kayu dan gurandil, tapi sekarang masyarakat balik ke pertanian cabai, tomat, padi, dan ternak. Ada juga hasil hutan bukan kayu, seperti gula aren, madu, dan kopi. Masyarakat sekarang sudah punya cara lain selain merusak hutan, hidupnya lebih aman dan ekonomi membaik,” terang Hendrik.

Ia sendiri mengelola objek wisata Curug Kembar bersama kelompok masyarakat. Ada sekitar 26 orang yang kini bergantung pada ekowisata.

“Kami tidak menerima investor besar. Wisata ini dikelola masyarakat, supaya hasilnya kembali ke warga. Kalau dulu masyarakat cuma jadi penonton, paling banter tukang parkir, sekarang mereka bisa mandiri,” katanya.

Sejak 2014, Malasari ditetapkan sebagai desa wisata dan rutin mewakili Kabupaten Bogor maupun Jawa Barat di berbagai ajang ekowisata. Bahkan warga lokal pernah dinobatkan sebagai Duta Lingkungan Ekowisata Jawa Barat.

Kesadaran lingkungan masyarakat juga meningkat.

“Sebelum dinobatkan jadi desa wisata, banyak penebangan pohon dan sampah sembarangan. Sekarang walau belum 100 persen, ada perubahan besar,” tutur Hendrik.

Hendrik optimistis pembangunan jalan dan event tahunan yang digagas Pemkab Bogor akan mendongkrak ekonomi warga. Tahun 2024 lalu, Malasari bahkan sudah masuk dalam agenda resmi Pemkab melalui penjemputan Bendera Pusaka di eks Pendopo Bupati Bogor.

“Kalau jalan sudah beres, saya yakin puluhan ribu orang akan berkunjung ke Malasari. Yang penting masyarakat siap menyambut wisatawan, tapi tetap menjaga ekosistem. Program tahunan ini mimpi kami, dan kami yakin ekonomi akan meningkat,” tegasnya.

Hendrik menutup dengan harapan besar agar Pemerintah membangun Desa Malasari bukan hanya sekedar seremonial saja.

“Saya dari dulu sampai sekarang berharap, bukan hanya seremoni event-event, tapi pembangunan harus berlanjut untuk masyarakat. Menuju hutan lestari, rakyat sejahtera,” pungkasnya.

(Pandu)

Tags: Bupati BogorDesa MalasariEkowisataNanggungPembangunanPertanianRudy SusmantoSejarahWisata

Related Posts

Soal Isu Ibu Kota Bogor Timur Digeser dari Sukamakmur, Beben: Jangan Patahkan Semangat Orang
Suara Bogor

Soal Isu Ibu Kota Bogor Timur Digeser dari Sukamakmur, Beben: Jangan Patahkan Semangat Orang

October 16, 2026
Jaro Ade Tinjau KDKMP Pakansari, Dorong Pembangunan Menyeluruh di 416 Desa dan 19 Kelurahan
Suara Bogor

Jaro Ade Tinjau KDKMP Pakansari, Dorong Pembangunan Menyeluruh di 416 Desa dan 19 Kelurahan

October 16, 2026
Achmad Fathoni Minta Satpol PP Tegas Soal Jam Operasional Kafe di Metland Cileungsi
Suara Bogor

Achmad Fathoni Minta Satpol PP Tegas Soal Jam Operasional Kafe di Metland Cileungsi

October 15, 2026
Nongkrong hingga Dini Hari di Metland Cileungsi Disorot, Jam Operasional Kafe Diminta Dibatasi
Suara Bogor

Nongkrong hingga Dini Hari di Metland Cileungsi Disorot, Jam Operasional Kafe Diminta Dibatasi

October 15, 2026
Drainase Pasar Cileungsi Kerap Mampet, Achmad Fathoni Soroti Kabel PLN dan Pipa PDAM
Suara Bogor

Drainase Pasar Cileungsi Kerap Mampet, Achmad Fathoni Soroti Kabel PLN dan Pipa PDAM

October 15, 2026
Sengketa PTSL hingga Banjir! Kang Junsam Tampung 22 Aspirasi Warga Gunung Putri di Desa Bojong Nangka
Suara Bogor

Sengketa PTSL hingga Banjir! Kang Junsam Tampung 22 Aspirasi Warga Gunung Putri di Desa Bojong Nangka

October 15, 2026
Next Post
Curanmor di Cileungsi, Pelaku Todongkan Senpi dan Lepaskan Tembakan

Curanmor di Cileungsi, Pelaku Todongkan Senpi dan Lepaskan Tembakan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Suara Botim | Bogor Timur

Suara Bogor yang inspiratif, inovatif dan keratif. Terpercaya Terlengkap Seputar Politik, Ekonomi, Travel, Teknologi, Otomotif dan Olahraga.

Follow us

Categories

  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Life & Style
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Suara Bogor
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Uncategorized
  • Wisata dan Kuliner

Recent Posts

  • Soal Isu Ibu Kota Bogor Timur Digeser dari Sukamakmur, Beben: Jangan Patahkan Semangat Orang
  • Jaro Ade Tinjau KDKMP Pakansari, Dorong Pembangunan Menyeluruh di 416 Desa dan 19 Kelurahan
  • Achmad Fathoni Minta Satpol PP Tegas Soal Jam Operasional Kafe di Metland Cileungsi
  • Nongkrong hingga Dini Hari di Metland Cileungsi Disorot, Jam Operasional Kafe Diminta Dibatasi
  • Redaksi
  • Karir
  • Info Iklan

© 2025 Suara Botim.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Suara Desa
  • Suara Pendidikan
  • Suara Bogor
  • Peristiwa
  • Wisata dan Kuliner
  • Hukum dan Kriminal
  • Kesehatan
  • Olahraga

© 2025 Suara Botim.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?