Cibinong, SuaraBotim.Com – Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Bogor mengingatkan para orang tua akan bahaya penggunaan gadget dan game online berlebihan pada anak, terutama yang masih dalam masa pertumbuhan.
Pasalnya, penggunaan yang tidak terkontrol dinilai dapat mengganggu perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak.
Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Waspada menjelaskan, bahwa dampak negatif gadget terhadap anak sangat signifikan, terutama untuk pertumbuhan anak.
“Anak bisa menjadi asosial, kurang bersosialisasi, dan lebih senang bermain dengan gamenya sendiri. Secara kognitif, anak menjadi malas belajar, apalagi jika sudah kecanduan,” ujarnya kepada SuaraBotim.Com, Rabu (13/8/25).
“Secara afektif, anak menjadi kurang peka terhadap lingkungan, teman, maupun orang tua. Secara psikomotorik, anak jadi jarang bergerak sehingga perkembangan motoriknya terganggu,” terusnya.
Menurut Waspada, bahaya semakin besar jika anak mengakses game online yang mengandung unsur kekerasan.
“Jika dalam game banyak adegan kekerasan, anak akan menganggap kekerasan sebagai hal biasa atau bahkan hiburan. Mereka bisa memukul teman atau melakukan tindakan agresif tanpa memahami bahwa itu berbahaya,” tegasnya.
Meski ada potensi dampak positif, seperti hiburan atau nilai edukatif dari konten tertentu, Waspada menilai, dampak negatif game online jauh lebih besar jika tidak disaring dan dibatasi.
Ia juga menyarankan, agar anak lebih banyak bermain permainan tradisional yang mengasah kreativitas dan interaksi sosial.
“Misalnya membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk. Itu memicu kreativitas, melatih motorik, mengasah kognitif, dan membangun afektif karena anak akan mengajak teman-temannya bermain,” katanya.
KPAD Kabupaten Bogor juga menemukan fakta mengkhawatirkan dari forum diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion / FGD) yang digelar beberapa waktu lalu. Dalam salah satu kasus, seorang anak berusia dua tahun belum bisa berbicara karena kecanduan gadget.
“Seharusnya, anak usia dua tahun sudah memiliki sekitar 10.000 kosakata dan bisa bicara lancar. Tapi anak ini hanya diam, asyik dengan gadgetnya. Akibatnya, saraf lidah dan otak tidak terstimulasi. Kondisi ini membutuhkan terapi jangka panjang,” ungkapnya.
Selain terlambat bicara, KPAD juga menemukan literatur dan laporan terkait dampak fisik penggunaan gadget, seperti iritasi mata, risiko kebutaan, kerusakan saraf otak akibat radiasi, hingga gangguan psikologis.
“Kami selalu mengimbau kepada orang tua, terutama yang memiliki anak balita, untuk tidak membelikan handphone. Otak anak masih rentan, dan mereka belum mampu mengontrol diri. Lebih baik anak menangis sebentar tapi besoknya lupa, daripada membiarkan mereka bermain gadget yang berujung pada masalah jangka panjang,” tutupnya.
Sementara itu, warga Sukaraja, Saeful mengucapkan, bahwa penggunaan gadget berlebihan membuat anak malas bergerak, lupa makan, dan meninggalkan aktivitas lain.
“Dampak psikologisnya, anak jadi susah diatur dan cenderung membangkang. Memang ada sisi positifnya, seperti anak menjadi melek teknologi, tapi orang tua harus mengontrolnya,” ucapnya.
- (Pandu)







